KIDIGO_CORE_SYSTEM_V2.8.92

> ROOT SHELL_

Digital Logbook Since Jan 2026

Dua Kabar di Satu Senja

25 Februari 2026
Pukul 17.46 WIB

Sore tadi, saat langkah kaki masih berat sepulang kerja, semesta seperti sengaja menguji rasa dalam satu tarikan napas.

Datang dua kabar sekaligus.

Yang pertama, kabar gembira. Adik iparku melahirkan. Seorang bayi laki-laki telah hadir di keluarga kami. Tangis kecilnya mungkin baru beberapa jam terdengar, tapi rasanya sudah membawa harapan baru yang besar. Satu lagi anggota keluarga lahir ke dunia. Satu lagi alasan untuk bersyukur. Hidup selalu punya cara untuk menambah cerita, bahkan di tengah kesibukan dan lelahnya hari.

Namun, kabar kedua datang seperti angin yang membuat dada sedikit sesak.

Besok aku tidak bisa bekerja seperti biasa, deru mesin penambang emas dan teman-teman seperjuangan harus ku tinggalkan. Aku harus pulang kampung. Di rumah, hanya tinggal dua bidadariku: putriku yang baru enam tahun, dan istriku. Mertua harus berangkat ke Kota Padang, ke tempat adik ipar yang baru melahirkan itu. Artinya, rumah harus segera kuisi kembali dengan kehadiranku. Bukan hanya sebagai suami, tapi sebagai ayah yang memastikan semuanya baik-baik saja.

Di satu sisi, hati hangat menyambut kelahiran. Di sisi lain, ada tanggung jawab yang harus segera kuambil. Begitulah hidup orang dewasa—bahagia dan cemas sering datang beriringan, tanpa jeda.

Aku belajar satu hal sore ini: kabar baik dan kabar kurang menyenangkan bisa duduk berdampingan dalam waktu yang sama. Dan tugas kita bukan memilih salah satunya, tapi menjalaninya dengan tenang.

Besok mungkin bukan hari kerja seperti biasa. Tapi besok tetap hari penting. Hari untuk keluarga. Hari untuk memastikan dua bidadariku merasa aman.

Dan malam ini, aku menutup hari dengan satu kalimat sederhana:
Hidup bergerak, dan aku harus ikut bergerak bersamanya.

_KIDIGO

Catatan Hasil Tambang Tanggal: 25 Februari 2026

Hari ini emas yang berhasil dikumpulkan dan dilebur sebanyak 0,73 gram.
Harga jual saat itu Rp 2.180.000 per gram.

---

Perhitungan Nilai Emas
0,83 gram × Rp 2.180.000 = Rp 1.809.400

---

Potongan Biaya Operasional
Minyak Pertalite: Rp 300.000

Sisa setelah potong BBM:
Rp 1.809.400 – Rp 300.000 = Rp 1.509.400

---

Pembagian Hasil

Sisa dibagi menjadi 6 bagian:
4 orang pekerja
1 bagian mesin
1 bagian lokasi
Rp 1.509.400 ÷ 6 = Rp 251.566 per bagian


---

Rincian Akhir
Masing-masing pekerja: Rp 251.566 dibulatkan menjadi Rp 250.000, sisanya untuk tambah beli kopi
Bagian mesin: Rp 250.000
Bagian lokasi: Rp 250.000

Alhamdulillah, Hasil hari saya bawa uang pulang, tidak seperti kemarin yang zonk. Ini memang ada peningkatan dibanding hari sebelumnya karena kita membuat lubang galian batu, apalagi biaya BBM naik sedikit dan anggota pun bertambah 1 orang. Tapi sistem tetap berjalan, pembagian tetap jelas, dan semua tetap kebagian. Dalam pekerjaan seperti ini, stabilitas dan kekompakan tim jauh lebih berharga daripada satu hari hasil besar.

Logbook Penambangan – Lokasi Rawa Sawit

Hari ini saya kembali bekerja di lokasi yang sama. Jalur yang sudah akrab, suara mesin yang itu-itu lagi, dan harapan yang tetap menyala seperti biasa. Targetnya sederhana: mengumpulkan material dasar rawa yang kemarin sempat menunjukkan potensi.

Namun hasil hari ini berbicara berbeda.

Material yang diangkat—batu koral dan pasir dasar rawa—ternyata tidak mengandung emas. Setelah proses penyedotan, pemisahan, dan pengecekan konsentrat, tidak ada butiran yang bisa dibawa pulang. Nol gram. Bersih.

Sempat juga menemukan sebongkah batu yang sekilas terlihat menjanjikan. Warna kuningnya membuat jantung sedikit berdebar. Tapi setelah diperiksa lebih teliti, kilapnya terlalu pucat dan karakternya tidak sesuai. Bukan emas. Hanya batu yang pandai menipu mata lelah.

Hari ini bukan soal hasil, tapi soal validasi lapangan. Prediksi meleset. Titik yang diasumsikan memiliki deposit ternyata kosong. Ini menjadi catatan penting: tidak semua dasar rawa menyimpan logam mulia, meskipun secara visual terlihat potensial.

Evaluasi hari ini:
  1. Lapisan koral dan pasir yang diambil kemungkinan berada di zona yang sudah “bersih” dari aliran emas.
  2. Perlu observasi ulang arah arus lama dan struktur lapisan tanah di bawahnya.
  3. Besok perlu uji titik sedikit lebih dalam atau bergeser beberapa meter dari area hari ini.
  4. Tambang selalu jujur. Ia tidak pernah berbohong—hanya menguji kesabaran.
Pulang tanpa hasil bukan berarti pulang tanpa pelajaran. Hari ini saya membawa pulang data, pengalaman, dan pengingat bahwa emas tidak suka ditebak. Ia harus dicari dengan metode, bukan sekadar firasat.

Besok lanjut lagi.

_ Kidigo

Catatan Lapangan — Tentang Sebuah Batu Kuning

Hari ini aku membawa pulang satu batu yang sempat membuat jantung berdebar lebih cepat dari biasanya. Warnanya kuning kecokelatan, sekilas seperti menyimpan harapan. Di tengah lumpur, di antara lelah dan suara mesin, benda kecil ini sempat membuat pikiranku melompat jauh: bagaimana kalau ini emas?


Sesampainya di rumah, aku membersihkannya perlahan. Air mengalir, lumpur luruh, dan warna aslinya mulai terlihat jelas. Kuningnya bukan kilap logam, melainkan warna tanah yang teroksidasi. Ada bercak hitam dan bagian putih keabu-abuan yang kemungkinan besar silika atau kuarsa. Bukan kilau yang hidup. Lebih seperti noda waktu yang menempel pada batu.

Aku menatapnya cukup lama.

Sebagai penambang, aku tahu satu hal penting: harapan itu perlu, tapi bukti jauh lebih penting. Batu ini mengajarkanku lagi tentang objektivitas. Tidak setiap warna kuning adalah emas. Tidak setiap kilap adalah keberuntungan.

Namun aku tidak kecewa.

Justru di sinilah prosesnya terasa nyata. Setiap batu yang kuangkat adalah bagian dari perjalanan belajar. Kesalahan membaca tanda hari ini adalah bekal ketajaman esok hari. Tambang bukan hanya soal hasil gram, tapi soal melatih insting, kesabaran, dan ketahanan mental.

Batu ini mungkin bukan emas.
Tapi ia tetap menyimpan pelajaran.

Dan dalam dunia tambang, pelajaran itu nilainya sering lebih mahal daripada satu butir serpihan.

— Kidigo

Hari ini bukan hanya tentang Emas - Limbek di Rawa Sawit

Hari ini kerja seperti biasa. Mesin meraung, air keruh menyembur, lumpur terangkat dari dasar rawa dekat perkebunan sawit. Targetnya emas. Fokusnya tanah. Tapi rezeki kadang datang dalam bentuk lain.

Di sela-sela semprotan air dan aliran lumpur, sesuatu bergerak. Kuning kecokelatan. Bertotol halus. Seekor limbek liar—kemungkinan jenis seperti Clarias batrachus atau bahkan lele rawa seperti Clarias nieuhofii—muncul dari lumpur yang kami buka.

Ukurannya sekitar sepergelangan tangan anak kecil. Tidak besar, tapi cukup membuat senyum muncul di tengah kerja berat. Saya tangkap, pelan tapi pasti. Sayangnya, tadi saya juga melihat yang lebih besar. Jauh lebih besar. Dia lolos. Dan jujur saja, yang itu yang bikin pikiran sedikit terganggu sampai sekarang.

Kadang memang begitu. Dalam tambang, bukan hanya emas yang bikin deg-degan. Ada momen kecil yang justru lebih membekas.

Limbek yang saya dapat tidak langsung dibawa pulang. Saya taruh di baskom, saya beri lumpur berair supaya tetap hidup. Saya ingin melihat apakah besok saya bisa mendapatkan yang lain. Kalau alam masih berbaik hati, mungkin yang besar itu akan muncul lagi.

Menambang itu bukan hanya soal hasil gram demi gram. Ini tentang membaca tanda-tanda alam. Tentang kesabaran. Tentang menerima yang didapat hari ini sambil tetap berharap lebih esok hari.

Hari ini bukan hanya tentang emas.
Hari ini tentang seekor limbek kecil yang mengingatkan saya—di tengah lumpur, selalu ada kehidupan.

Besok, saya kembali.
Siapa tahu, yang besar itu sudah menunggu.