Sebagai seseorang yang cukup sering menjelajahi hutan untuk mencari jalur baru dan titik-titik potensial, saya selalu percaya bahwa peralatan yang baik bukanlah yang paling mahal, melainkan yang paling sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Selama bertahun-tahun, saya menggunakan berbagai jenis parang, golok, dan pisau survival. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Ada yang sangat baik untuk menebas semak, tetapi kurang nyaman untuk membelah kayu. Ada pula yang kuat untuk pekerjaan berat, tetapi terlalu besar dan merepotkan saat dibawa berjalan jauh.
Karena itulah saya memutuskan untuk merancang sendiri sebuah golok survival yang hybrid serta benar-benar sesuai dengan kebutuhan saya di hutan tropis Indonesia.
Berawal dari Sebatang Per Daun Kijang
Bahan yang saya pilih bukanlah baja impor mahal atau baja eksotis yang sulit ditemukan.
Saya memilih menggunakan baja per daun mobil Kijang lama.
Alasannya sederhana:
- Kuat dan tangguh.
- Mampu menahan benturan berulang.
- Mudah ditemukan.
- Sudah terbukti digunakan oleh banyak pandai besi untuk membuat golok dan parang kerja.
Namun saya tidak ingin sekadar membuat golok biasa.
Saya menginginkan sebuah golok hybrid survival yang mampu menjalankan berbagai tugas dalam satu alat.
Kriteria yang Harus Dipenuhi
Golok ini harus mampu:
- Menebas semak belukar saat membuka jalur.
- Memotong bambu ukuran sedang hingga besar.
- Membelah kayu bakar sebesar betis orang dewasa.
- Membantu membangun shelter darurat.
- Tetap nyaman dibawa di pinggang sepanjang perjalanan.
Dengan kata lain, saya membutuhkan perpaduan antara golok tradisional, parang hutan, dan pisau survival modern.
Spesifikasi Akhir
Setelah melalui berbagai revisi desain, berikut spesifikasi yang akhirnya saya pilih:
Dimensi
- Panjang bilah: 35 cm
- Panjang gagang: 13 cm
- Panjang total: 48 cm
Bilah
- Lebar pangkal: 5,5 cm
- Lebar ujung: 6,5 cm
- Tebal pangkal: 6 mm
- Tebal ujung: 4 mm (distal taper)
Konstruksi
- Full Tang
- Convex Grind ringan
- Punggung bilah hampir lurus
- Choil kecil untuk memudahkan pengasahan
- Jimping ringan pada punggung bilah
- Lubang lanyard
Ergonomi
- Palm swell ergonomis
- Hook belakang halus
- Guard stop 5 mm untuk mencegah tangan meluncur saat basah
Keseimbangan
- Titik berat sekitar 9 cm di depan gagang
Konfigurasi ini menghasilkan kombinasi yang cukup ideal antara tenaga tebas dan kenyamanan penggunaan.
Kenapa Tidak Membuatnya Lebih Besar?
Pertanyaan ini cukup sering muncul. Banyak orang beranggapan bahwa semakin besar golok, semakin baik performanya. Kenyataannya tidak selalu demikian.
Golok yang terlalu besar dan panjang akan:
- Lebih berat.
- Cepat melelahkan.
- Kurang nyaman di pinggang.
- Sulit digunakan untuk pekerjaan detail.
Saya lebih memilih alat yang mampu melakukan banyak pekerjaan dengan baik daripada alat yang sangat hebat untuk satu pekerjaan tetapi buruk untuk pekerjaan lainnya.
Pelajaran Penting yang Saya Dapatkan
Selama proses perancangan ini, saya menyadari bahwa bentuk bilah hanyalah sebagian dari keseluruhan cerita.
Yang jauh lebih penting adalah:
Heat Treatment
Perlakuan panas yang tepat akan menentukan:
- Ketahanan mata golok.
- Fleksibilitas baja.
- Ketahanan terhadap benturan.
- Umur pakai golok.
Golok dengan desain sederhana tetapi heat treatment yang baik akan jauh lebih unggul dibanding golok mahal dengan perlakuan panas yang buruk.
Menunggu Hari Ditempa
Blueprint akhir kini telah selesai.
Selanjutnya adalah menyerahkan desain ini kepada pandai besi yang berpengalaman untuk mewujudkannya menjadi alat yang sesungguhnya.
Saya membayangkan suatu hari nanti golok ini akan menemani perjalanan panjang menembus semak, memotong bambu, membelah kayu bakar, dan membantu bertahan hidup di tengah hutan tropis seluruh Indonesia.
"Bukan sebagai pajangan dan Bukan sebagai koleksi."
Melainkan sebagai alat kerja yang lahir dari kebutuhan nyata di lapangan.
Dan bagi saya, itulah makna sebenarnya dari sebuah golok survival.
Salam rimba,
Kidigo