Pagi ini udara terasa lembab. Langit sedikit gelap, awan menggantung di atas bukit seperti menahan hujan turun lebih cepat. Dari jauh suara mesin sawmill sudah terdengar sejak pagi, suara yang sekarang mulai akrab di telinga walaupun baru beberapa hari berada di tempat ini.
Tanah di sekitar sawmill dipenuhi serbuk kayu. Kalau diinjak terasa lembut, tapi bercampur potongan kayu tajam yang kadang menusuk sandal. Bau kayu basah bercampur asap dari drum pembakaran membuat suasana di sini punya aroma khas yang sulit dijelaskan. Bukan bau wangi, tapi entah kenapa terasa hidup.
Hari ini badan benar-benar terasa berat. Pinggang masih sakit sejak kemarin. Baru dua hari bekerja membantu di sawmill, tapi rasanya seperti tubuh dipakai seminggu penuh tanpa istirahat. Tangan mulai terasa kasar, bahu pegal, dan setiap bangun dari duduk pinggang seperti ditarik dari belakang.
Di tempat ini aku mulai sadar kalau membelah kayu ternyata bukan pekerjaan ringan seperti yang sering dilihat orang. Balok-balok besar itu harus diangkat, diputar, ditahan, lalu dibelah satu per satu. Kadang kayunya masih basah dan beratnya seperti tidak mau diajak kompromi. Keringat cepat sekali keluar, bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi.
Sesekali aku berhenti sebentar hanya untuk menarik napas sambil melihat tumpukan kayu yang sudah selesai dibelah. Ada rasa capek, tapi ada juga rasa puas yang aneh. Hasil kerja di sawmill langsung terlihat di depan mata. Kayu besar berubah jadi papan-papan panjang yang nanti entah akan jadi dinding rumah, lantai, atau rangka bangunan milik orang lain.
Di sela suara mesin dan kayu yang jatuh, aku sempat berpikir… ternyata pekerjaan seperti ini memang membentuk badan sekaligus mental. Tidak banyak orang kuat bertahan di tempat penuh debu, panas, suara mesin, dan beban berat setiap hari. Tapi orang-orang di sini menjalaninya seperti hal biasa.
Menjelang siang angin dari arah bukit mulai terasa dingin. Pohon kelapa bergerak pelan tertiup angin, sementara serbuk kayu terus beterbangan di sekitar tempat kerja. Aku duduk sebentar di pinggir tumpukan papan sambil memegang pinggang yang mulai nyeri lagi.
Capek memang. Tapi ada sesuatu dari tempat ini yang membuatku ingin terus belajar bertahan. Mungkin karena di sini aku benar-benar merasakan kerasnya kerja dengan tangan sendiri.
“Tidak semua kerja keras terlihat rapi. Ada yang dipenuhi serbuk kayu, keringat, dan pinggang pegal… tapi justru dari situlah mental dibentuk.”