Pagi ini mulai lebih cepat dari biasanya. Sekitar jam sembilan, rumah sudah terisi orang. Bukan ramai yang ribut, tapi ramai yang tenang. Satu per satu datang, salaman, duduk. Ada yang langsung ambil posisi, ada yang masih berdiri sebentar sambil menunggu yang lain lengkap.
Saya ikut duduk di pinggir lingkaran.
Di tengah sudah disiapkan air minum, gelas-gelas, dan teko. Sederhana. Tidak ada yang dibuat berlebihan. Memang bukan itu tujuannya.
Hari ini genap seratus hari bapak mertua meninggal.
Tidak ada yang benar-benar membuka pembicaraan panjang. Paling hanya tanya kabar singkat, lalu diam lagi. Seolah semua sudah tahu, hari ini bukan untuk banyak bicara.
Doa mulai dibaca.
Pelan. Tidak tergesa. Suara menyatu, kadang terdengar jelas, kadang seperti tenggelam. Ada jeda-jeda kecil di antara bacaan, mungkin untuk mengambil napas, mungkin juga karena ada yang menahan sesuatu di dalam.
Saya ikut membaca, tapi jujur tidak sepenuhnya fokus.
Pikiran saya ke mana-mana.
Ke waktu-waktu sebelumnya. Ke hal-hal kecil yang dulu tidak terlalu diperhatikan. Sekarang justru itu yang sering muncul. Hal sederhana, tapi terasa dekat.
Aneh memang. Waktu beliau masih ada, banyak hal terasa biasa saja. Sekarang, hal biasa itu justru jadi yang paling sering diingat.
Saya sempat menunduk lebih lama.
Bukan karena menangis, tapi lebih ke… kosong. Seperti lagi mencoba menerima sesuatu yang sebenarnya sudah terjadi, tapi belum sepenuhnya selesai di dalam diri.
Di sebelah saya ada yang menarik napas panjang. Di seberang, ada yang menunduk sambil memainkan jari. Tidak ada yang benar-benar menunjukkan kesedihan secara terang-terangan. Tapi suasananya jelas terasa.
Rindu, tapi tidak berisik.
Doa selesai.
Tidak ada yang langsung berdiri. Semua tetap di tempat masing-masing. Ada yang mulai minum, ada yang ngobrol pelan. Topiknya ringan saja. Keseharian. Hal-hal biasa.
Dan justru di situ terasa hangatnya.
Kami masih duduk di lingkaran yang sama. Masih saling sapa. Masih ada alasan untuk berkumpul.
Saya sempat melihat sekeliling.
Lemari di belakang, televisi lama, dinding yang itu-itu saja. Tidak ada yang berubah. Tapi rasanya tidak benar-benar sama.
Seperti ada yang kurang, tapi tidak bisa disebutkan.
Atau mungkin sebenarnya bukan kurang—hanya berubah bentuk.
Menjelang siang, satu per satu pamit. Tidak lama-lama. Datang, ikut doa, lalu pulang. Sederhana.
Rumah kembali seperti biasa.
Tapi saya tahu, pagi ini tidak akan benar-benar hilang begitu saja.
Ada yang tertinggal.
Bukan suasananya, tapi rasanya.
Saya tidak dapat pelajaran besar hari ini. Tidak juga dapat jawaban apa-apa.
Cuma satu yang terasa jelas:
orang bisa pergi,
tapi alasan untuk berkumpul bisa tetap tinggal.
Dan mungkin, itu yang paling penting.