Kidigo

Yang Tak Direncanakan, Justru Yang Dibawa Pulang

Yang Tak Direncanakan, Justru Yang Dibawa Pulang

Sore itu sebenarnya sederhana.
Tidak ada target besar, tidak ada rencana muluk.
Aku hanya ingin turun ke pinggiran sungai, mencari pakis untuk dijadikan sayur malam.

Langkahku terbilang santai. Pikiran juga ringan.
Jenis sore yang tidak butuh alasan untuk dinikmati.

Tapi di tengah perjalanan, mataku berhenti.

Di depan, pohon-pohon cengkeh berdiri diam. Tidak ramai, tidak banyak. Tapi cukup untuk membuatku berpikir ulang. Kuncupnya sudah penuh, gemuk, beberapa mulai berubah warna—tanda yang tidak bisa diabaikan.

Dan di situ, rencana kecilku berubah arah.

Pakis yang tadi terasa penting, tiba-tiba jadi nomor dua.
Aku tidak banyak berpikir panjang. Tangan mulai bergerak, memetik satu per satu. Pelan, tanpa terburu-buru.

Tidak banyak memang. Pohon yang kumiliki juga tidak luas.
Tapi setiap tangkai yang jatuh ke tangan, ada rasa yang sulit dijelaskan—antara lega, cukup, dan… ya, bersyukur.

Kadang kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang sudah direncanakan, sampai lupa melihat apa yang sudah ada di depan mata.

Sore itu mengingatkanku: tidak semua yang kita cari adalah yang kita butuhkan.

Aku pulang tanpa pakis.
Tapi bukan berarti pulang dengan tangan kosong.

Sekitar lima kilo cengkeh basah.
Tidak besar, tapi juga bukan nol.

Dan anehnya, rasanya lebih dari cukup.


---

Mungkin hidup memang seperti itu.
Tidak selalu mengikuti rencana.
Tapi kalau kita cukup peka, selalu ada sesuatu yang bisa dibawa pulang.

BAGIKAN: