Pikiran? Tekanan? Atau cuma aku yang mulai retak pelan-pelan.
Kepala ini berisik. Bukan ramai—berisik.
Semua hal datang barengan, nggak ngantri, nggak sopan.
Kerja. Uang. Istri. Anak. Masa depan. Gagal.
Ulang lagi. Ulang lagi. Ulang lagi.
Aku capek. Tapi anehnya, capek bukan alasan buat berhenti.
Malah jadi pengingat kalau aku nggak punya hak untuk istirahat terlalu lama.
Kadang aku mikir…
Kalau aku hilang sebentar aja dari semua ini, apa yang bakal terjadi?
Apa semuanya bakal tetap jalan?
Atau justru langsung berantakan?
Dan itu bikin aku makin nggak berani lepas.
Sialnya, aku juga nggak yakin sama jalan yang lagi aku ambil.
Ini benar? Atau cuma keputusan buru-buru yang nanti aku sesali?
Aku benci rasa ini.
Jalan… tapi ragu.
Maju… tapi setengah yakin.
Lebih baik salah tapi yakin,
daripada benar tapi terus dihantui keraguan.
Tapi sekarang?
Aku bahkan nggak punya kemewahan untuk memilih.
Aku harus jalan.
Lucunya, orang mungkin lihat aku dan mikir: “Dia kuat.”
Padahal kalau isi kepala ini bisa didengar… mungkin mereka bakal mundur pelan-pelan.
Aku nggak hancur. Belum.
Tapi juga nggak utuh.
Ada bagian dari aku yang mulai kebal.
Bukan karena sudah sembuh,
tapi karena sudah terlalu sering kena.
Dan bagian itu yang sekarang pegang kendali.
Aku jadi dingin sama diri sendiri.
Keras. Nuntut. Nggak kasih ruang buat lemah.
Kalau jatuh? Ya bangun.
Kalau sakit? Tahan.
Kalau ragu? Diam.
Selesai.
Tapi di balik itu… ada suara kecil yang nggak pernah benar-benar hilang:
“Kalau nanti semua ini nggak cukup gimana?”
Dan itu yang paling berisik.
Aku nggak butuh motivasi.
Aku butuh kepastian.
Tapi hidup nggak pernah ngasih itu.
Jadi ya sudah.
Aku jalan aja.
Walaupun setengah percaya.
Walaupun kepala ini penuh suara yang saling tabrak.
Walaupun dalam hati aku tahu—
aku lagi berperang sama diri sendiri.
Dan nggak ada yang benar-benar tahu.