Di tengah jalan, beliau mulai bercerita. Katanya ada temannya di sawmill yang butuh orang untuk kerja kayu. Nada bicaranya santai, tapi aku bisa menangkap maksud di baliknya. Seolah beliau sedang bilang, “Ini kesempatan, ambil kalau kau siap.”
Aku hanya tersenyum.
Bukan karena tak serius, tapi karena jujur saja—aku belum pernah kerja di sawmill. Dunia kayu, mesin, potongan balok besar... itu bukan wilayahku selama ini. Tapi di sisi lain, aku juga bukan orang yang pilih-pilih kerja. Selama halal dan bisa menghidupi keluarga, aku jalan.
Apalagi sekarang kondisi sudah berbeda.
Istriku sedang hamil tua. Sebentar lagi aku akan jadi ayah lagi. Pikiran tentang biaya persalinan, kebutuhan bayi, dan sekolah anak terus berputar di kepala. Mungkin itu juga yang dipikirkan paman. Beliau tak ingin aku terus di tambang, jauh dari rumah.
Hari ini, tiba-tiba HP berdering. Nomor tak dikenal.
Aku angkat.
Ternyata benar, itu teman paman. Orang yang kemarin dibicarakan. Pembicaraan kami singkat, langsung ke inti. Dia ingin bertemu. Menanyakan kesanggupan, bukan sekadar basa-basi.
Aku datang.
Di sana kami bicara soal kerja, sistemnya, upah, dan waktu. Tidak banyak drama—semua lugas. Dan entah kenapa, aku merasa ini bukan sekadar tawaran biasa. Ini seperti pintu yang sedang dibuka.
Aku bilang sanggup.
Tapi aku juga minta waktu satu minggu.
Bukan tanpa alasan.
Minggu depan ada kenduri di rumah. Doa untuk almarhum mertua. Itu bukan acara yang bisa aku lewatkan. Ada hal-hal yang tak bisa diganti dengan uang—dan ini salah satunya.
Sekarang aku duduk, menulis ini sambil berpikir.
Mungkin ini awal dari jalan baru. Mungkin juga akan berat di awal. Tapi hidup memang begitu—tak selalu kita siap dulu baru jalan, kadang kita jalan dulu baru jadi siap.
Yang penting satu:
Aku tidak boleh berhenti berusaha.