Ada masa dimana hidup terasa begitu ramai.
Pesan datang silih berganti, tawa terasa dekat, dan banyak orang seolah ingin selalu ada di sekitar. Saat itu aku pikir semuanya tulus. Aku pikir mereka benar-benar peduli.
Tapi hidup memang punya cara sendiri untuk membuka mata seseorang.
Ketika keadaan mulai berubah, saat aku jatuh, saat masalah datang satu per satu dan hidup tidak lagi seindah biasanya… perlahan orang-orang itu mulai menghilang.
Ada yang berubah dingin.
Ada yang mendadak sibuk.
Ada yang bahkan hilang tanpa kabar.
Dan lucunya, orang yang dulu paling sering berkata “tenang, gue ada” justru menjadi orang yang paling sulit ditemukan.
Awalnya sakit.
Bukan karena mereka pergi, tapi karena aku sadar bahwa tidak semua kebersamaan lahir dari ketulusan. Sebagian hanya datang karena nyaman dengan keadaan kita saat sedang baik-baik saja.
Namun waktu mengajarkan banyak hal.
Aku mulai mengerti bahwa hidup bukan tentang punya banyak orang di sekeliling. Bukan tentang siapa yang paling ramai saat kita bersinar. Tapi tentang siapa yang tetap duduk di samping kita saat hidup sedang gelap-gelapnya.
Sekarang aku tidak lagi terlalu memikirkan siapa yang pergi.
Aku lebih menghargai mereka yang tetap bertahan.
Walaupun hanya satu atau dua orang.
Karena ternyata, satu orang yang tulus jauh lebih berarti daripada seribu orang yang datang hanya saat kita berada di atas.
Dan mungkin… semua jatuh bangun yang pernah aku lewati memang bukan untuk menghancurkan. Tapi untuk mengajarkan siapa yang benar-benar layak disebut rumah di tengah kerasnya kehidupan.
“Hidup mengajarkan satu hal: tidak semua yang dekat benar-benar peduli, dan tidak semua yang diam benar-benar meninggalkan.”