Logbook #10082026
Hari ini saya kembali memikirkan sebuah ungkapan sederhana yang terasa begitu dekat dengan cara saya menghadapi sebuah gelanggang—bukan hanya gelanggang pertarungan, tetapi juga gelanggang kehidupan.
“Di gelanggang, ketika taring dan kuku telah dikeluarkan, lawan sudah bisa mengukur sampai di mana kekuatan kita.”
Saya melihatnya seperti seekor harimau.
Harimau tidak berjalan sambil terus memperlihatkan taringnya. Ia tidak perlu mengeluarkan kuku hanya untuk membuat makhluk lain percaya bahwa dirinya berbahaya. Ia cukup berdiri dengan gagah, tenang, dan tanpa banyak ekspresi.
Karena kekuatan yang sebenarnya tidak membutuhkan pengumuman.
Begitu pula ketika saya berada dalam sebuah diskusi, musyawarah, ataupun ketika berhadapan dengan perbedaan argumentasi di hadapan banyak orang.
Saya tidak merasa harus menjadi orang yang paling keras suaranya. Saya tidak perlu terburu-buru menunjukkan seluruh kemampuan saya. Saya lebih memilih untuk mendengar, memperhatikan, memahami arah pembicaraan, kemudian menentukan kapan harus berbicara.
Bagi saya, diam bukan berarti tidak memiliki jawaban.
Kadang justru dengan diam, saya bisa melihat lebih banyak.
Saya bisa melihat bagaimana seseorang berpikir.
Saya bisa melihat kelemahan dalam sebuah argumentasi.
Saya bisa mengetahui apa yang sebenarnya sedang dipertahankan.
Dan saya bisa menentukan apakah sesuatu memang perlu dilawan, atau cukup dibiarkan lewat.
Sebab ketika seseorang terlalu cepat mengeluarkan seluruh “taring dan kukunya”, ia sebenarnya sedang memberikan informasi kepada lawannya.
Lawan akhirnya tahu:
“Oh, ternyata hanya sampai di sini kekuatannya.”
Karena itu saya lebih suka menjadi seperti harimau.
Berdiri tenang.
Tidak mencari keributan.
Tidak perlu menunjukkan kekuatan setiap saat.
Tetapi ketika benar-benar diperlukan, barulah kemampuan itu digunakan.
Namun ada satu hal yang semakin saya pahami: kekuatan bukan hanya kemampuan untuk menyerang. Kekuatan juga berarti mampu menahan diri.
Bahkan dalam sebuah perdebatan, tujuan saya bukan semata-mata membuat orang lain kalah.
Kalau argumentasi orang lain memang lebih kuat, saya harus mampu mengakuinya.
Karena mengakui kesalahan tidak membuat seseorang menjadi lemah.
Justru orang yang benar-benar kuat tidak takut mengatakan:
“Ya, dalam hal ini kamu benar.”
Pada akhirnya, saya tidak ingin menjadi orang yang sibuk membuktikan bahwa dirinya kuat.
Saya hanya ingin menjadi seseorang yang tahu kapan harus diam, kapan harus berbicara, kapan harus bertahan, dan kapan harus mengeluarkan taring.
Seperti harimau.
Tidak mengaum setiap saat.
Tidak menunjukkan kuku tanpa alasan.
Tidak mencari mangsa hanya untuk membuktikan dirinya predator.
Ia hanya berdiri.
Tenang.
Gagah.
Dan membuat siapa pun yang melihatnya memahami bahwa ketenangan itu bukan ketiadaan kekuatan.
Itulah kekuatan yang terkendali.
๐จ️ Quote
Jangan keluarkan taring dan kuku sebelum waktunya. Berdirilah tenang, karena orang yang terlalu cepat menunjukkan kekuatannya sedang mengajarkan lawannya cara mengalahkannya.