Ada hari ketika kerja keras dibalas dengan hasil yang memuaskan. Namun ada pula hari ketika segala sesuatu seolah berjalan di luar rencana. Hari ini adalah salah satunya.
Pagi itu kami datang dengan semangat untuk membuka lubang tambang yang baru. Semua perlengkapan telah disiapkan, harapan pun ikut dibawa. Namun belum lama pekerjaan dimulai, tanggul yang kami buat justru jebol. Air mengalir deras memenuhi lubang tambang hingga pekerjaan tidak mungkin dilanjutkan.
Kami tidak punya banyak pilihan selain berpindah lokasi dan memulai semuanya dari awal.
Di tengah proses memindahkan perlengkapan, cobaan berikutnya datang. Sluice box berukuran 1 × 4 meter yang masih basah dan dipenuhi lumpur harus dipindahkan. Bebannya terasa berlipat. Saat itulah tulang belikat kiri saya seperti tertarik dengan sangat keras. Rasa nyerinya terus bertahan hingga malam. Bahkan setiap menarik napas terasa sesak karena sakitnya.
Belum selesai sampai di situ.
Mesin tambang 23 HP yang menjadi andalan kami mengalami kerusakan. Setelah dicoba diperbaiki di lokasi, hasilnya tetap nihil. Mesin itu akhirnya harus dibawa keluar menuju bengkel. Akibatnya, seluruh pekerjaan hari ini hanya mengandalkan mesin 16 HP.
Dengan tenaga yang lebih kecil, kami tetap berusaha membuka lubang baru. Kami berharap masih ada jalur material yang bisa memberikan harapan. Namun kenyataannya berbeda. Lubang yang kami buat belum menemukan jalur material yang baik. Hasil yang didapat hari ini sangat sedikit. Setelah dihitung, nilainya hanya cukup untuk membeli bensin dan rokok kami berlima.
Hari ini bukan tentang berapa gram emas yang kami dapatkan.
Hari ini adalah tentang bagaimana kami menghadapi kenyataan ketika alam, peralatan, dan kondisi tubuh sama-sama menguji kesabaran.
Sore harinya kami sepakat keluar dari lokasi sambil membawa mesin yang rusak ke bengkel. Besok kami memutuskan untuk tidak bekerja. Selain karena hari Jumat dan kami ingin menunaikan salat Jumat, tubuh kami juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Khususnya saya, yang harus memberi kesempatan pada tulang belikat kiri untuk pulih sebelum kembali mengangkat beban dan menghadapi kerasnya pekerjaan di lapangan.
Mungkin hari ini terasa mengecewakan.
Namun saya percaya, menjadi penambang bukan hanya tentang menemukan emas. Menjadi penambang adalah tentang tetap berdiri ketika hasil tidak sesuai harapan, tetap bersabar ketika alat rusak, dan tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan pulang dengan selamat.
InsyaAllah, setelah tubuh ini pulih, mesin kembali menyala, dan semangat kembali terkumpul, kami akan kembali ke lubang tambang. Karena setiap kegagalan hari ini adalah bagian dari perjalanan menuju keberhasilan di kemudian hari.
Tidak semua hari menghasilkan emas. Ada hari ketika yang paling berharga adalah keselamatan, kesehatan, dan kesempatan untuk kembali mencoba esok hari.