Daftar Isi

Secangkir Kopi, Sebatang Lintingan, dan Sunyi yang Menenangkan

Logbook #06082026 — 00.17 WIB

Hari sudah berganti. Jam menunjukkan pukul 00.17 WIB. Di luar sana, malam semakin larut. Suara mesin yang sejak pagi menemani pekerjaan kini telah berhenti. Yang tersisa hanyalah keheningan, semilir angin malam, dan sesekali suara alam yang memecah sunyi.

Aku duduk di atas tikar sederhana, ditemani secangkir kopi tanpa gula dan sebatang lintingan tembakau. Tidak ada kemewahan di sini. Hanya rasa pahit kopi yang jujur, aroma tembakau yang perlahan menguar, serta pikiran yang akhirnya mendapat kesempatan untuk beristirahat setelah seharian bekerja.

Di tempat seperti inilah aku belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal yang besar. Terkadang, ia hadir dalam bentuk momen yang sangat sederhana—saat tubuh lelah bisa beristirahat, pikiran menjadi tenang, dan hati masih dipenuhi rasa syukur.

Besok pagi pekerjaan akan kembali dimulai. Mesin akan kembali dihidupkan. Lumpur akan kembali diinjak. Perjuangan akan kembali dilanjutkan. Namun malam ini, aku memilih menikmati jeda sejenak, mengumpulkan tenaga sebelum menyambut hari yang baru.

Semoga setiap tetes keringat yang jatuh esok menjadi jalan menuju rezeki yang halal dan membawa manfaat bagi keluarga yang selalu menunggu di rumah.

Tidak semua perjuangan harus disaksikan banyak orang. Ada yang cukup ditemani secangkir kopi, sebatang lintingan, dan doa yang tak pernah putus.
Artikel Sebelumnya Baca postingan ini