Logbook #12082026
Hari ini tiba-tiba terlintas dipikiran saya ungkapan dengan bahasa Minangkabau yang sederhana, tetapi tajam sekali maknanya:
Dubilih diusie dari sarugo dek sombongnyo. Iko manusia olun maidu baun sarugo ndak siagak sombong e de, sampai manapiek dado lo di muko den.
Basijarah siapo ongku bulieh, tapi ongku olun tau lo sijarah den sia de.
Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:
“Iblis diusir dari surga karena kesombongannya. Ini manusia belum mencium bau surga saja, sombongnya minta ampun, sampai menepuk-nepuk dada pula di depan saya.
Anda boleh punya sejarah, tetapi Anda belum tahu siapa saya dan seperti apa sejarah saya.”
Ada sesuatu yang menarik dari ungkapan ini.
Kesombongan sering kali lahir bukan karena seseorang benar-benar sudah mencapai puncak, tetapi karena ia merasa sudah cukup tinggi untuk merendahkan orang lain.
Padahal manusia tidak pernah benar-benar tahu perjalanan orang lain.
Kita mungkin hanya melihat seseorang berdiri diam, berbicara seperlunya, dan tidak banyak menunjukkan apa yang pernah dilaluinya. Lalu dengan mudah kita mengira bahwa kita lebih hebat, lebih berpengalaman, atau lebih tahu.
Padahal kita hanya melihat halaman yang sedang terbuka. Kita tidak pernah tahu seluruh bukunya.
“Basijarah siapo ongku bulieh”—silakan Anda punya sejarah.
Saya tidak perlu menyangkalnya.
Tetapi:
“Ongku olun tau lo sijarah den sia de.”
Anda belum tahu siapa saya dan sejarah saya.
Kalimat itu bagi saya bukan ancaman dan bukan pula ajang untuk membanggakan diri.
Justru sebaliknya.
Ia adalah pengingat untuk tidak terlalu cepat menilai seseorang dari apa yang tampak di permukaan.
Sebab orang yang benar-benar pernah melewati banyak hal biasanya tidak merasa perlu menceritakan semuanya.
Ia tahu apa yang sudah dilaluinya.
Ia tahu berapa kali pernah jatuh.
Ia tahu berapa banyak hal yang pernah dipelajari dengan susah payah.
Dan karena itu, ia tidak membutuhkan tepuk tangan untuk membuktikan dirinya.
Diam bukan berarti tidak punya sejarah.
Tenang bukan berarti tidak punya kemampuan.
Dan tidak menunjukkan taring bukan berarti tidak memiliki taring.
Hari ini saya kembali memahami satu hal:
Kesombongan tidak selalu membutuhkan kata-kata besar. Kadang cukup dengan menepuk dada di hadapan orang lain.
Dan bagi saya, lebih baik menyimpan sejarah sebagai pengalaman daripada menjadikannya alasan untuk meninggikan diri.
Karena pada akhirnya, manusia tetap manusia.
Belum mencium bau surga pun sudah berani menyombongkan diri.
Quote hari ini
“Jangan terlalu cepat membusungkan dada di hadapan seseorang. Bisa jadi kau hanya sedang berdiri di depan sebuah sejarah yang belum pernah kau baca.”
— Kidigo