Beberapa hari ini saya kembali memikirkan satu pertanyaan yang sering muncul di kepala.
Mana yang lebih tinggi, bushcraft atau survival?
Dulu saya mengira survival adalah tingkatan tertinggi. Logikanya sederhana. Survival terdengar lebih ekstrem. Lebih berat. Lebih menantang. Tetapi setelah semakin sering masuk hutan, saya mulai melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Bushcraft ternyata bukan tentang siapa yang paling hebat hidup di hutan. Bushcraft adalah proses belajar. Belajar membaca alam, belajar membuat api, belajar mengenali tumbuhan, belajar memanfaatkan apa yang tersedia tanpa merusaknya.
Sedangkan survival bukan sesuatu yang dicari.
Survival datang ketika semuanya tidak berjalan sesuai rencana.
Ketika tersesat.
Ketika bekal habis.
Ketika cuaca berubah.
Ketika tidak ada pilihan selain bertahan hidup.
Saat itulah semua ilmu yang dipelajari selama bushcraft benar-benar diuji.
Saya juga mulai memahami kenapa dalam survival orang tidak selalu makan sampai kenyang. Bukan karena tidak ingin, tetapi karena harus berpikir untuk hari berikutnya. Berbeda jika suatu saat mendapatkan rezeki berupa seekor rusa atau kijang. Kita boleh makan sampai tenaga kembali, tetapi sisanya harus diawetkan. Di hutan, yang terpenting bukan hanya mendapatkan makanan, melainkan bagaimana makanan itu bisa bertahan selama mungkin.
Semakin sering saya berada di alam, semakin saya sadar bahwa hutan bukan tempat untuk ditaklukkan.
Hutan adalah guru.
Ia mengajarkan kesabaran ketika kayu sulit menyala.
Ia mengajarkan rasa syukur ketika menemukan mata air.
Ia mengajarkan kerendahan hati ketika hujan turun sepanjang malam.
Dan yang paling penting, ia mengajarkan bahwa manusia hanyalah tamu.
Sebagai seorang Muslim, saya juga percaya bahwa semua ini bukan sekadar latihan fisik. Setiap pohon, aliran sungai, suara burung, hingga embun di pagi hari adalah tanda-tanda kebesaran Allah. Semakin lama berada di tengah hutan, justru semakin terasa betapa kecilnya diri ini di hadapan Sang Pencipta.
Mungkin itulah alasan mengapa saya terus belajar bushcraft.
Bukan untuk terlihat hebat.
Bukan untuk disebut ahli.
Tetapi agar jika suatu hari Allah menguji saya dengan keadaan darurat, saya sudah memiliki bekal untuk bertahan. Dan jika tidak pernah diuji sekalipun, setidaknya saya telah belajar lebih menghargai alam, menghargai makanan, menghargai air, dan menghargai kehidupan.
Saya semakin yakin dengan satu kalimat sederhana.
Bushcraft mengajarkan kemampuan. Survival menguji kemampuan. Dan alam akan selalu menjadi guru terbaik bagi siapa saja yang mau belajar dengan rendah hati.Hashtag: