Perjalanan Dimulai, Ujian Datang Sebelum Memasuki Hutan
Hari ini, sekitar selepas salat Zuhur, aku memulai perjalanan menuju Dharmasraya. Sejak malam sebelumnya, seluruh perlengkapan sudah kupersiapkan. Aku memeriksa satu per satu isi ransel agar tidak ada yang tertinggal. Peralatan memasak, perlengkapan bermalam, perlengkapan survival, hingga peralatan mendulang emas sudah berada di tempatnya masing-masing.
Dengan mengucap Bismillah, aku menyalakan motor dan mulai meninggalkan rumah. Perasaan hari ini bercampur antara semangat, penasaran, dan harapan. Perjalanan kali ini bukan sekadar menuju hutan, tetapi juga kembali menyapa alam yang selalu menghadirkan cerita baru.
Namun, belum terlalu jauh perjalanan, ujian pertama datang. Ban belakang motorku tiba-tiba bocor. Aku sempat berharap hanya terkena paku kecil sehingga cukup ditambal. Kenyataannya berbeda. Bengkel tambal ban sangat sulit ditemukan. Aku harus melaju perlahan sambil terus mencari, hingga akhirnya menemukan sebuah bengkel setelah menempuh jarak yang cukup jauh.
Setelah ban dibongkar, ternyata ban dalam motorku sudah robek dan tidak mungkin diperbaiki lagi. Tidak ada pilihan selain menggantinya dengan ban dalam yang baru. Waktu perjalanan pun sedikit tertunda. Meski begitu, aku memilih menerimanya dengan tenang. Dalam setiap perjalanan, selalu ada hal-hal yang tidak bisa direncanakan.
Setelah motor kembali siap digunakan, aku melanjutkan perjalanan. Beberapa kilometer kemudian, aku memutuskan berhenti di sebuah panorama bukit yang berada di antara Nagari Tanjung Lolo dan Tanjung Gadang. Tempat itu menawarkan pemandangan yang begitu indah. Hamparan perbukitan hijau membentang sejauh mata memandang, ditemani angin yang bertiup pelan dan udara sore yang terasa sejuk.
Aku mengeluarkan cooking set dari dalam ransel, lalu merebus air untuk menyeduh secangkir kopi. Sambil menunggu air mendidih, aku menikmati sebungkus roti yang kubeli di sebuah warung saat perjalanan. Tidak ada meja, tidak ada kursi, hanya duduk sederhana di tepi bukit sambil memandangi alam.
Saat-saat seperti inilah yang selalu kusukai. Secangkir kopi hangat di tengah perjalanan terasa jauh lebih nikmat daripada kopi di mana pun. Mungkin karena ditemani pemandangan yang indah, atau mungkin karena setiap teguknya menjadi pengingat bahwa perjalanan bukan hanya soal mencapai tujuan, tetapi juga menikmati setiap langkah yang mengantarkan ke sana.
Setelah kopi habis dan semua perlengkapan kembali dirapikan, aku memastikan tidak ada sampah yang tertinggal. Bagiku, alam telah memberi tempat untuk beristirahat. Sudah seharusnya aku meninggalkannya tetap bersih.
Menjelang pukul enam sore, akhirnya aku tiba di Dharmasraya. Tujuan pertamaku bukan langsung menuju hutan, melainkan mampir ke rumah orang tuaku terlebih dahulu. Rasa lelah setelah perjalanan panjang perlahan berubah menjadi rasa syukur karena akhirnya bisa sampai dengan selamat.
Hari ini memang belum ada cerita tentang hutan, mendulang emas, atau bertahan hidup di alam liar. Namun, perjalanan menuju lokasi ternyata sudah memberikan pelajaran. Ban bocor, mencari bengkel yang jauh, menikmati secangkir kopi di atas bukit, hingga akhirnya tiba di rumah orang tua, semuanya menjadi bagian dari kisah yang layak dikenang.
Malam ini akan kugunakan untuk beristirahat dan memeriksa kembali seluruh perlengkapan. Besok, perjalanan akan berlanjut menuju hutan. Di sanalah petualangan yang sesungguhnya akan dimulai.
Sampai jumpa di logbook berikutnya. Semoga setiap langkah selalu diberi keselamatan, dan semoga alam kembali mengajarkan hal-hal yang tidak pernah ditemukan di tempat lain.