Istriku sebentar lagi akan melahirkan. Harusnya ini jadi momen bahagia. Harusnya aku sibuk mempersiapkan semuanya dengan perasaan penuh harap. Tapi jujur saja, di balik itu semua, ada rasa takut yang diam-diam tumbuh. Takut tidak siap. Takut tidak cukup. Takut kalau aku gagal menjadi sandaran yang seharusnya.
Di sisi lain, anakku akan masuk SD. Fase baru dalam hidupnya. Dunia yang lebih luas, tanggung jawab yang lebih besar. Aku ingin melihat dia berangkat sekolah dengan semangat, dengan tas baru, sepatu baru, dan senyum yang tulus. Tapi lagi-lagi, pikiranku tidak bisa lepas dari satu hal: biaya. Selalu kembali ke situ. Selalu menghantui.
Belum selesai sampai di situ, motor yang selama ini jadi penopang aktivitas malah rusak parah. Bukan sekadar servis ringan. Ini bongkar mesin. Artinya biaya lagi. Artinya waktu lagi. Artinya hambatan lagi. Kadang aku merasa hidup ini seperti sengaja menguji di satu titik yang sama, berulang-ulang, sampai benar-benar terasa di tulang.
Yang paling membuat sesak adalah pekerjaan. Atau lebih tepatnya, ketidakpastian pekerjaan. Ada peluang, tapi tidak jelas. Ada harapan, tapi menggantung. Mesin yang kemarin sebelum lebaran sudah siap, sudah kuanggap sebagai titik balik—ternyata hanya jadi harapan kosong. Yang punya mesin itu seperti baling-baling di atas bukit. Tidak punya arah tetap. Ke mana angin berhembus, ke situ dia ikut. Dan aku? Hanya bisa menunggu di bawah, berharap arah itu jatuh ke arahku.
Tapi tidak pernah.
Dan dari situ, rasa putus asa mulai merayap. Pelan, tapi dalam. Aku bukan orang yang mudah menyerah. Setidaknya aku selalu mencoba untuk tidak terlihat seperti itu. Tapi hari ini, aku akui, aku lelah.
Beban ini bukan cuma soal uang. Bukan cuma soal pekerjaan. Tapi soal perasaan gagal yang mulai muncul. Sebagai suami. Sebagai ayah. Sebagai seseorang yang seharusnya berdiri di depan, bukan malah kebingungan di tengah jalan.
Aku sempat bertanya dalam hati, “Apa yang salah?”
Apakah aku kurang usaha? Atau mungkin aku terlalu berharap pada hal yang tidak pasti? Atau mungkin memang ini bagian dari proses yang belum selesai?
Tidak ada jawaban pasti.
Yang ada hanya kenyataan bahwa waktu terus berjalan. Istriku tidak bisa menunda waktu melahirkan. Anakku tidak bisa menunda masuk sekolah. Motor tidak akan memperbaiki dirinya sendiri. Dan kebutuhan tidak akan berhenti hanya karena aku sedang bingung.
Ironisnya, di tengah semua ini, aku masih harus terlihat kuat. Harus terlihat tenang. Karena kalau aku runtuh, semuanya ikut goyah. Jadi aku simpan semuanya. Aku tahan. Aku pendam.
Tapi malam seperti ini, saat semuanya mulai sepi, saat tidak ada yang benar-benar melihat, rasanya semua itu keluar begitu saja. Tidak berupa tangisan keras, tapi lebih seperti perasaan kosong yang dalam. Seperti ada lubang yang tidak bisa diisi.
Aku sadar satu hal, hidup tidak pernah benar-benar memberi jeda. Satu masalah selesai, datang lagi yang lain. Kadang bahkan datang bersamaan, seperti sekarang. Dan mungkin, memang di situlah letak ujiannya. Bukan di seberapa cepat kita menyelesaikan masalah, tapi di seberapa kuat kita tetap berdiri saat semuanya datang sekaligus.
Aku tidak tahu besok akan seperti apa. Tidak tahu apakah akan ada pekerjaan yang benar-benar pasti. Tidak tahu apakah ada jalan keluar yang lebih jelas. Tapi satu hal yang aku tahu, aku tidak punya pilihan selain terus jalan.
Pelan pun tidak apa-apa. Yang penting tidak berhenti.
Mungkin aku memang tidak bisa mengontrol semuanya. Tapi setidaknya aku masih bisa mengontrol satu hal: bagaimana aku menyikapinya. Dan malam ini, meskipun berat, aku memilih untuk tidak menyerah.
Karena di balik semua ini, ada istri yang sedang berjuang membawa kehidupan. Ada anak yang menunggu masa depannya dimulai. Dan ada diriku sendiri, yang sebenarnya belum habis.
Mungkin aku hanya sedang lelah. Bukan kalah.
Dan kalau memang ini titik terendah, semoga ini juga jadi titik balik.
Besok, aku akan coba lagi.
"Kadang hidup tidak memberi kita jalan yang mudah, tapi selalu memberi alasan untuk tetap berjalan."