Kidigo

Di Tengah Dua Suara Yang Saling Berseteru

Di Tengah Dua Suara Yang Saling Berseteru

Hari ini aku kembali berada di posisi yang sama—di antara dua orang yang sama-sama aku kenal, sama-sama aku hormati, tapi juga sama-sama sedang tidak baik-baik saja satu sama lain.

Lucunya, mereka tidak pernah benar-benar bertengkar di depan. Tidak ada suara tinggi, tidak ada adu argumen yang meledak. Semuanya terlihat normal jika dilihat sekilas. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang terasa janggal. Seperti ada jarak yang tidak kasat mata, seperti ada kata-kata yang sengaja disimpan, bukan untuk diselesaikan… tapi untuk diceritakan ke orang lain.

Dan entah bagaimana, aku sering jadi tempat cerita itu berlabuh.

Si Y datang dengan versinya. Ia bercerita dengan rapi, runtut, seolah semua sudah dipikirkan matang-matang. Ada logika di sana, ada alasan yang terdengar masuk akal. Tapi di sela-selanya, aku bisa merasakan sesuatu yang lain—keinginan untuk dimengerti, mungkin juga keinginan untuk dibenarkan.

Di waktu yang berbeda, si V datang dengan cara yang hampir berlawanan. Lebih singkat, lebih tajam, kadang diselipi emosi yang tidak ditahan. Tidak banyak penjelasan, tapi cukup untuk membuatku mengerti bahwa ada sesuatu yang mengganjal di dalam dirinya.

Dua cara yang berbeda. Dua sudut pandang yang tidak pernah bertemu.

Dan aku… berdiri di tengah.

Awalnya, aku hanya mendengarkan. Kupikir, mungkin mereka hanya butuh tempat untuk bicara. Tapi semakin lama, aku mulai sadar—kalau aku tidak hati-hati, aku bukan lagi pendengar. Aku bisa saja menjadi bagian dari masalah yang bahkan bukan milikku.

Ada momen di mana aku hanya tersenyum, mengangguk, mencoba menetralkan suasana. Bukan karena aku setuju, tapi karena aku tidak ingin memperkeruh. Tapi ternyata, diam pun punya risiko. Terlalu lama diam bisa disalahartikan sebagai setuju. Terlalu sering mendengar bisa membuatku ikut terbawa.

Sampai akhirnya aku mulai memberi batas.

Bukan dengan marah. Bukan dengan nada tinggi. Tapi dengan kalimat sederhana yang kupilih hati-hati. Kalimat yang cukup jelas untuk menghentikan, tapi tidak melukai. Kalimat yang menjaga jarak, tanpa harus menjauh.

Aku mulai mengatakan bahwa aku tidak nyaman jika harus mendengar salah satu dijelekkan. Aku mulai mengarahkan mereka untuk bicara langsung satu sama lain. Tidak selalu berhasil, tapi setidaknya aku tidak lagi jadi tempat yang sama seperti sebelumnya.

Yang menarik, saat kami bertiga berkumpul, suasana justru terasa lebih ringan. Tidak ada yang benar-benar membuka konflik. Seolah-olah semuanya baik-baik saja. Tapi aku tahu, itu bukan berarti masalahnya hilang. Hanya saja, belum menemukan jalannya.

Di satu titik, aku pernah bicara lebih terbuka. Tidak menyudutkan, tapi cukup tegas. Aku menyampaikan bahwa aku melihat ada perbedaan cara pandang di antara mereka, dan mungkin itu yang membuat semuanya terasa rumit. Aku tidak menyebut siapa yang salah. Karena jujur saja, dari yang kulihat… mereka berdua sama-sama punya andil.

Dan anehnya, setelah itu, keadaan justru tidak memburuk. Tidak ada yang tersinggung secara berlebihan. Tidak ada yang menjauh. Kami tetap berjalan seperti biasa. Bahkan sampai hari ini, kami masih sejalan.

Tapi aku tidak ingin lengah.

Karena aku belajar satu hal: menjaga keseimbangan itu bukan pekerjaan sekali jadi. Ini bukan soal mengatakan satu kalimat yang tepat, lalu semuanya selesai. Ini soal konsistensi. Soal menjaga sikap, menjaga batas, dan tetap sadar posisi.

Aku tidak ingin menjadi hakim. Bukan tugasku menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Aku juga tidak ingin menjadi jembatan yang menghubungkan dua hal yang seharusnya diselesaikan langsung oleh mereka sendiri.

Aku hanya ingin tetap menjadi diriku—yang bisa menghargai keduanya, tanpa harus kehilangan arah.

Kadang memang melelahkan. Menjadi orang yang menahan diri di saat orang lain meluapkan. Menjadi orang yang berpikir di saat orang lain bereaksi. Tapi mungkin, justru di situlah letak kedewasaan itu diuji.

Bukan saat semuanya mudah. Tapi saat kita tetap bisa bersikap benar, di tengah situasi yang tidak sederhana.

Hari ini aku tidak menyelesaikan masalah mereka. Dan mungkin, memang bukan itu tujuanku.

Tapi setidaknya, aku tahu satu hal dengan pasti:

Aku tidak ikut menambah masalah.

Dan untuk sekarang… itu sudah cukup.


"Tidak semua konflik harus kita selesaikan, tapi kita selalu punya pilihan untuk tidak ikut memperkeruhnya."


BAGIKAN: