Kidigo

Dokumentasi perjalanan hidup, proyek woodworking kreatif, dan tips teknologi. Tempat berbagi cerita, bekerja dalam sunyi, dan membangun masa depan.

Di Antara Rimbun Sawit dan Nafas yang Kembali Teratur

Hari ini aku berdiri di tengah deretan pohon kelapa sawit yang menjulang tinggi. Batangnya lurus, diam, seolah sudah lama berdamai dengan panas, hujan, dan waktu. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah dan dedaunan yang entah kenapa terasa menenangkan. Tidak ada suara bising kota, tidak ada hiruk pikuk yang memaksa pikiran berlari. Hanya ada aku, parang di tangan, dan hamparan semak yang menunggu untuk ditaklukkan.

Aku datang ke sini bukan untuk bersantai. Bukan juga untuk sekadar menikmati pemandangan. Ada tanggung jawab yang kubawa, ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Aku mengambil borongan untuk menebas rumput dan semak yang sudah tumbuh liar, seolah-olah ingin menguasai seluruh lahan tanpa izin.

Setiap ayunan parang terasa seperti percakapan antara aku dan hidup. Kadang ringan, kadang berat. Ada bagian yang mudah ditebas, tapi ada juga yang keras, penuh duri, dan harus dihadapi dengan tenaga lebih. Persis seperti hari-hari yang sedang kujalani belakangan ini.

Keringat mulai turun perlahan. Matahari yang tadinya bersahabat, pelan-pelan mulai menunjukkan kekuatannya. Tapi anehnya, aku tidak merasa terbebani. Justru di sini, di tengah pekerjaan yang mungkin bagi sebagian orang terasa berat, aku menemukan semacam ketenangan yang sulit dijelaskan.

Mungkin karena di sini semuanya terasa jujur.

Kalau aku tidak mengayun parang, rumput itu tidak akan hilang. Kalau aku berhenti, pekerjaan juga ikut berhenti. Tidak ada yang berpura-pura. Tidak ada yang perlu disembunyikan. Hasilnya sebanding dengan usaha yang dikeluarkan. Sederhana, tapi pasti.

Berbeda dengan banyak hal di luar sana yang sering kali terasa abu-abu.

Sesekali aku berhenti, menarik napas panjang, lalu memandang sekitar. Deretan pohon sawit itu tetap berdiri kokoh, seolah mengingatkanku bahwa hidup memang tidak selalu harus cepat. Ada waktunya diam, ada waktunya bergerak, dan ada waktunya bertahan tanpa banyak bicara.

Aku tersenyum kecil.

Setidaknya hari ini, ada sesuatu yang bisa kubawa pulang. Bukan hanya soal uang dari hasil kerja, tapi juga rasa bahwa aku masih mampu berdiri, masih bisa berusaha, dan belum kalah.

Mungkin hasilnya tidak besar. Mungkin juga belum cukup untuk menyelesaikan semua masalah yang menunggu di rumah. Tapi setidaknya, hari ini aku tidak menyerah.

Dan kadang, itu sudah lebih dari cukup.

Menjelang sore, ketika bayangan pohon mulai memanjang dan angin terasa lebih dingin, aku menyadari satu hal—hidup ini memang tidak selalu memberi jalan yang mudah. Tapi selama kaki masih mau melangkah dan tangan masih mau bekerja, selalu ada celah untuk bertahan.

Aku mengusap keringat di wajah, melihat hasil tebasan yang mulai tampak rapi.

Tidak sempurna, tapi nyata.

Dan hari ini, aku memilih untuk mensyukuri itu.


“Tidak semua perjuangan harus terlihat besar. Kadang, cukup dengan tetap berdiri dan tidak menyerah hari ini—itu sudah kemenangan.”
BAGIKAN: