Awalnya aku benar-benar ragu dengan permintaan Ayah. Beliau memberiku sebilah golok tanpa gagang, tanpa sarung, lalu meminta agar aku membuatnya dari kayu sicerek. Kayu yang selama ini bahkan tidak pernah masuk dalam daftar pilihanku.
Selama ini aku selalu pakai kayu yang sudah jelas kualitasnya seperti: Kayu Surian, Mahoni, Kemuning, Nangka, bahkan Rambutan. Semua sudah “teruji”.
Sementara Kayu Sicerek?
Jujur saja, di pikiranku itu cuma kayu biasa. Yang sering tumbuh liar, ditebang, bahkan dibiarkan begitu saja. Yang lebih sering diambil itu malah daunnya, buat obat gatal karena kutu dan tungau kalau di hutan.
Aku sempat bertanya, kenapa harus kayu itu?
Tapi Ayah bilang, kayu sicerek bagus. Seratnya halus, warnanya putih kekuningan, dan itu semua beliau ketahui dari Kakek - Ayahnya ayahku. Dari penuturan beliau sebenarnya aku sudah mulai curiga—ini bukan sekadar soal kayu. Ini soal sesuatu yang lebih lama dari sekadar pengalamanku sendiri.
Meski masih ragu, aku tetap ambil sebilah golok itu dan tersenyum bahkan tidak untuk membantahnya, tapi juga belum sepenuhnya percaya pada kayu ini.
Dan hari ini… saat aku sudah berada dikampung istriku, semuanya berubah.
Aku mulai memilih kayu sicerek yang pas, memotongnya, lalu melihat bagian dalamnya..
Aku terdiam menatapi seratnya yang benar-benar halus. Polanya rapi. Warnanya bersih, lembut. Tidak meleset sedikit pun dari apa yang Ayah katakan.
Di situ aku merasa seperti sedang ditampar pelan.
Ternyata selama ini aku salah menilai.
Kayu itu tidak pernah berubah. Dari dulu mungkin memang sudah seperti ini. Hanya saja… aku yang tidak pernah benar-benar melihatnya.
Aku jadi ingat, sudah berapa banyak kayu sicerek yang pernah aku tebang dan aku abaikan begitu saja. Padahal mungkin, di antara itu semua, ada yang kualitasnya lebih dari kayu ini. Tapi aku tidak pernah memberi kesempatan.
Lucu juga kalau dipikir.
Kita sering merasa sudah “tahu” banyak hal. Padahal mungkin kita cuma terbiasa dengan apa yang sering kita pakai. Di luar itu, kita anggap biasa saja… atau bahkan tidak berharga.
Hari ini aku belajar, ternyata bukan semua hal harus dikenal dulu baru dihargai. Kadang justru harus diberi kesempatan dulu… baru kita sadar nilainya.
Sekarang aku mengerti maksud Ayah.
Dan mungkin… ini juga dulu yang dirasakan Ayah saat mendengar cerita dari Kakek.
Ada hal-hal yang memang tidak bisa dijelaskan panjang lebar. Tidak cukup hanya dengan kata-kata.
Harus dilihat sendiri...
Harus disentuh...
Harus dialami...
Golok ini sudah selesai dan rasanya bukan cuma sekadar alat.
Di dalamnya akan cerita.
Tentang keraguanku.
Tentang keyakinan Ayah.
Dan tentang warisan dari Kakek.
Aku tersenyum sekarang.
Bukan karena aku berhasil membuat gagangnya…
tapi karena akhirnya aku paham.
“Bukan kayunya yang berubah…
tapi cara pandangku yang akhirnya belajar melihat.”