Kidigo

Sisa-Sisa yang Runtuh

Sisa-Sisa yang Runtuh

Harapan itu... akhirnya kupadamkan sendiri.
Sengaja, biar nanti dia nggak bisa lagi balik menyakitiku. 
Semua mimpi yang dulu kujaga mati-matian, sekarang cuma jadi abu yang menyesakkan kepala.

Banyak orang sok tahu bilang kalau waktu bakal menyembuhkan. Tapi nyatanya? 
Waktu cuma ngajarin kita cara membiasakan diri. 
Luka itu nggak pernah benar-benar pergi, dia cuma belajar buat berhenti teriak, pelan-pelan jadi sunyi.

Aku bukannya kuat...
Aku cuma sudah terlalu biasa berdiri di atas puing-puing diriku sendiri yang terus-terusan runtuh.

Takdir itu nggak butuh dimengerti.
Dia cuma datang, terjadi, lalu mengunci pintu. 

Semua yang ingin kupunya pelan-pelan diambil tanpa izin.
Sekarang aku nggak mau lagi melawan arus, karena jujur saja, lelah itu jauh lebih jujur daripada ambisi yang dipaksakan.

Kalau hidup memang cuma soal bertahan, ya sudah... diamku ini adalah cara paling keras untuk melawan. Hidup ini nggak pernah adil, dia cuma pinter milih siapa yang mau dihajar ujian. 

Dan aku? 
Aku sudah terlalu lama di sini, sampai-sampai rasa sakit ini rasanya sudah kayak rumah sendiri.
Kalau besok nggak ada yang berubah, ya nggak apa-apa. 
Aku sudah nggak mau berekspektasi tinggi. 
Karena menerima itu bukan berarti kita ikhlas, itu cuma tanda kalau kita sudah capek berharap sama dunia.

Sekarang aku jalan saja, meski rasanya kayak nggak punya tujuan. Bukan karena aku nyasar, tapi karena akhirnya aku sadar: Takdir nggak pernah peduli kita sudah siap... atau belum sama sekali.


“Yang tersisa dariku bukan kekuatan, tapi kebiasaan bertahan di antara reruntuhan.”




BAGIKAN: