Aku mulai berhenti bertanya, “kenapa aku?”
Bukan karena sudah menemukan jawabannya…
tapi karena akhirnya sadar—pertanyaan itu nggak pernah benar-benar punya jawaban.
Malam-malam jadi lebih panjang sekarang.
Bukan karena waktu melambat, tapi karena pikiranku menolak berhenti bekerja.
Setiap kenangan datang tanpa diundang, duduk seenaknya di sudut kepala, lalu menatapku seperti tamu yang tahu aku nggak punya keberanian untuk mengusirnya.
Aku pernah mencoba memperbaiki semuanya.
Menyusun ulang potongan-potongan yang hancur, meyakinkan diri kalau mungkin… masih ada yang bisa diselamatkan.
Tapi kenyataannya?
Ada hal-hal yang kalau sudah runtuh, bukan lagi soal diperbaiki, tapi soal belajar hidup di atas reruntuhannya.
Lucunya, orang-orang tetap melihatku sama.
Masih berjalan, masih bicara, masih tertawa kalau perlu.
Mereka nggak tahu kalau setiap langkah itu seperti berjalan di atas pecahan kaca yang tak terlihat.
Nggak berdarah di luar… tapi dalamnya sudah lama hancur.
Aku mulai mengurangi cerita.
Bukan karena nggak ada yang ingin dibagi, tapi karena aku lelah menjelaskan luka yang bahkan aku sendiri nggak sepenuhnya mengerti.
Dan di titik ini…
aku nggak lagi berharap hidup jadi lebih baik.
Aku cuma berharap…
kalau besok datang, aku masih cukup utuh untuk menjalaninya meski hanya sebagai bayangan dari diriku yang dulu.
Karena ternyata,
menjadi “baik-baik saja” itu bukan tentang sembuh.
Tapi tentang
seberapa rapi kita menyembunyikan kehancuran dan seberapa lama kita bisa bertahan tanpa benar-benar jatuh.
"Aku tidak sembuh—aku hanya belajar diam agar luka tidak lagi bersuara"