Hari ini sebenarnya nggak ada yang spesial. Bangun pagi seperti biasa, badan masih terasa berat, pikiran juga belum sepenuhnya “nyala”. Aku sempat duduk agak lama di pinggir tempat tidur, bukan karena malas, tapi karena rasanya ada yang mengganjal di dalam kepala. Bukan masalah baru, bukan juga sesuatu yang tiba-tiba muncul. Lebih seperti tumpukan hal lama yang belum benar-benar selesai.
Aku tarik napas pelan.
Hari tetap berjalan, mau aku siap atau nggak.
Sepanjang hari tadi aku tetap melakukan rutinitas seperti biasa. Bekerja, ngobrol seperlunya, menjalankan hal-hal yang memang harus dilakukan. Dari luar mungkin terlihat normal. Nggak ada yang aneh. Bahkan kalau orang lain lihat, mungkin mereka akan bilang, “Ya, biasa saja.”
Tapi di dalam kepala, nggak sesederhana itu.
Ada banyak hal yang tiba-tiba muncul tanpa diundang.
Potongan-potongan kejadian lama.
Keputusan yang pernah kuambil.
Dan tentu saja, penyesalan yang kadang datang tanpa permisi.
Aku sempat teringat satu momen lama—
waktu aku yakin banget sama satu pilihan, merasa itu keputusan terbaik yang bisa kuambil saat itu. Tapi ujungnya? Nggak seperti yang kubayangkan. Bahkan bisa dibilang berantakan.
Lucunya, dulu aku sering menyalahkan keadaan.
Kadang juga menyalahkan orang lain.
Dan lebih sering lagi… menyalahkan diri sendiri.
“Coba dulu aku nggak begitu…”
“Coba aku ambil jalan lain…”
“Coba aku lebih sabar…”
Kalimat “coba” itu nggak pernah habis.
Dan makin dipikirin, makin capek.
Hari ini aku sadar satu hal yang sebenarnya sederhana, tapi entah kenapa baru benar-benar terasa sekarang:
masa lalu itu nggak bisa diajak negosiasi.
Seberapa keras pun aku memikirkannya,
dia tetap akan diam di tempatnya.
Aku sempat berhenti sejenak tadi siang, duduk sendirian tanpa distraksi. Nggak buka HP, nggak ngapa-ngapain. Cuma diam.
Awalnya nggak nyaman.
Kepala makin berisik.
Tapi lama-lama… justru dari situ aku mulai melihat sesuatu dengan lebih jernih.
Mungkin selama ini aku terlalu keras sama hidup.
Atau mungkin… terlalu keras sama diri sendiri.
Aku selalu ingin semuanya berjalan sesuai rencana.
Kalau nggak sesuai, aku anggap itu kegagalan.
Kalau hasilnya nggak seperti yang kuharapkan, aku anggap itu kesalahan.
Padahal kalau dipikir-pikir lagi, hidup memang nggak pernah janji akan berjalan lurus.
Ada bagian yang memang harus melenceng.
Ada kejadian yang memang harus “jatuh” dulu.
Dan ada fase di mana kita dipaksa untuk menerima hal-hal yang sebenarnya nggak kita inginkan.
Aku nggak bilang ini enak.
Jujur saja, beberapa bagian hidupku masih terasa berat kalau diingat.
Ada kehilangan yang sampai sekarang belum benar-benar “hilang”.
Ada luka yang mungkin sudah nggak berdarah, tapi tetap terasa kalau disentuh.
Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, aku nggak langsung menolak semua itu.
Aku coba lihat dari sudut yang berbeda.
Gimana kalau semua itu memang bagian dari jalanku?
Gimana kalau semua yang terjadi, seburuk apa pun rasanya, tetap punya peran dalam membentuk diriku sekarang?
Pertanyaan itu nggak langsung bikin semuanya terasa ringan.
Tapi setidaknya… aku nggak lagi melawan sekeras biasanya.
Aku mulai paham kalau menerima itu bukan berarti setuju.
Bukan juga berarti menganggap semuanya baik-baik saja.
Menerima itu lebih ke… berhenti berdebat dengan kenyataan.
Aku masih ingin hidup yang lebih baik.
Masih punya harapan.
Masih punya target.
Aku belum selesai.
Tapi sekarang aku mencoba cara yang berbeda.
Aku nggak lagi maksa semuanya harus sesuai sama yang aku rencanakan.
Kalau ada yang berjalan baik, ya aku syukuri.
Kalau ada yang nggak sesuai, ya aku coba jalani tanpa langsung marah.
Kedengarannya sederhana.
Tapi buatku, ini bukan hal kecil.
Karena selama ini, aku terlalu sering “perang” sama hidup.
Sedikit saja nggak sesuai, langsung kesal.
Sedikit saja gagal, langsung merasa jatuh.
Padahal mungkin hidup cuma berjalan seperti seharusnya.
Malam ini terasa lebih sunyi dari biasanya.
Aku duduk lagi, kali ini tanpa beban sebesar tadi siang.
Masih ada pikiran yang lewat, jelas.
Masih ada kenangan yang muncul.
Tapi rasanya beda.
Nggak seberisik sebelumnya.
Aku nggak tahu apakah ini bisa disebut berdamai.
Mungkin belum.
Tapi setidaknya, hari ini aku nggak lagi lari.
Aku nggak lagi pura-pura semuanya baik-baik saja, tapi juga nggak lagi melawan semuanya habis-habisan.
Aku cuma… menjalani.
Pelan-pelan.
Aku mulai menerima bahwa hidup nggak harus selalu masuk akal.
Nggak semua harus dimengerti sekarang.
Dan nggak semua harus selesai hari ini juga.
Ada proses yang memang butuh waktu.
Dan mungkin… aku juga butuh waktu.
Aku ingat dulu aku selalu ingin cepat “baik-baik saja”.
Cepat move on.
Cepat kuat.
Sekarang aku mulai sadar, mungkin nggak perlu secepat itu.
Nggak apa-apa kalau masih terasa.
Nggak apa-apa kalau belum sepenuhnya sembuh.
Yang penting, aku nggak berhenti jalan.
Hari ini aku belajar satu hal kecil, tapi cukup berarti:
hidup nggak selalu harus dimenangkan.
Kadang cukup dijalani.
Dan kalau sudah kuat… mungkin bisa dicintai juga.
Nggak sekarang, mungkin nanti.
Pelan-pelan saja.
“Aku nggak lagi berusaha mengubah semua yang terjadi. Aku cuma belajar menerima, lalu tetap melangkah.”
__KIDIGO