Kidigo

Ia Tidak Dilahirkan untuk Indah, Ia Dilahirkan untuk Bertahan

Ia Tidak Dilahirkan untuk Indah, Ia Dilahirkan untuk Bertahan

Tidak semua benda diciptakan untuk dipuja.
Sebagian… hanya ditakdirkan untuk bertahan.

Belati kecil ini tidak pernah mengenal kata “layak”.
Ia lahir dari sesuatu yang bahkan dunia pun tak mau mengingatnya—
besi rongsokan…
sisa yang dibuang tanpa rasa bersalah.

Tidak ada yang menanyakan asalnya.
Tidak ada yang peduli ia pernah menjadi apa.
Yang ada hanya panas.
Hanya pukulan.
Hanya api yang terus memaksa hingga ia kehilangan bentuk lamanya.

Ia tidak berubah karena ingin.
Ia berubah karena tidak diberi pilihan.

Di tangan seorang ahli,
ia ditempa tanpa belas kasihan.
Dipukul sampai diam,
dipanaskan sampai menyerah,
lalu didinginkan… seolah tak pernah punya cerita.

Dan saat semuanya selesai—
ia menjadi tajam.

Bukan karena hebat,
tapi karena ia tidak hancur saat seharusnya ia bisa.

Gagang dan sarungnya dari bambu—
terlihat sederhana, hampir tak berarti.
Namun justru di situlah letak kejujurannya.

Tidak ada kepura-puraan.
Tidak ada kemewahan yang menutupi luka.

Semua yang kamu lihat…
adalah hasil dari sesuatu yang pernah dihancurkan.

Belati ini tidak bersinar.
Ia tidak meminta dilihat.
Namun jika suatu hari ia digunakan…
ia tidak akan ragu.

Karena ia tahu satu hal yang tidak semua orang pahami—

Bahwa sesuatu yang telah melewati api berkali-kali…
tidak lagi takut pada panas.

Dan sesuatu yang pernah dibuang…
tidak akan pernah takut kehilangan.


Yang paling berbahaya bukan yang tajam… tapi yang sudah tidak takut patah.

BAGIKAN:
0 MIN READ