Tadi siang…
Ayah hampir tidak pulang.

Batu besar dari tebing tiba-tiba jatuh tidak jauh dari tempat ayah berdiri. Suaranya keras sekali. Tanah bergetar. Semua orang yang ada di lubang tambang langsung terdiam beberapa detik.

Di tempat seperti ini, kejadian seperti itu bukan cerita baru.
Satu batu saja bisa mengakhiri segalanya.

Saat itu ayah hanya bisa menarik napas panjang. Dalam hati ayah langsung teringat satu nama.

Mutiara Salsabila Ayumi.
Putri kecil ayah.

Malam ini sunyi sekali. Hanya suara jangkrik dan gemericik air di sekitar lokasi tambang yang menemani ayah menulis. Tubuh terasa lelah setelah seharian bergelut dengan lumpur, batu besar, dan mesin yang meraung tanpa henti.

Nak, Mutiara Salsabila Ayumi
Ada banyak hal yang ingin ayah katakan padamu.

Maafkan ayah yang sampai hari ini masih belum mampu menghadirkan kehidupan yang benar-benar nyaman untukmu dan bundamu. 

Ayah tahu, sering sekali ayah pergi jauh meninggalkanmu dengan bunda dikampung. Kadang berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Bukan karena ayah tidak rindu, bukan pula karena ayah tidak ingin selalu berada di sampingmu.

Justru karena ayah sangat menyayangimu.

Ayah pergi ke tempat yang jauh dan keras ini hanya untuk satu tujuan: agar kamu bisa hidup lebih baik dari ayah.

Nak… pekerjaan ayah bukan pekerjaan yang mudah. Banyak orang melihat emas hanya sebagai perhiasan yang berkilau di etalase toko. Mereka melihat keindahannya, melihat kemewahannya.

Namun tidak semua orang tahu cerita di balik kilau itu.

Di balik serpihan emas yang kecil itu, ada lumpur yang dalam, batu yang keras, dan tebing tanah yang sewaktu-waktu bisa runtuh. Ada lubang-lubang gelap yang harus dimasuki, ada mesin yang kadang tiba-tiba macet, dan ada rasa cemas yang selalu mengintai.

Ayah tidak berlebihan jika mengatakan bahwa di tempat seperti ini, malaikat maut sering terasa begitu dekat.

Satu batu besar saja bisa jatuh dari atas tebing.
Satu longsoran tanah saja bisa menutup lubang tambang.
Dan dalam hitungan detik… semuanya bisa berubah.

Namun setiap kali ayah merasa takut, ayah selalu mengingat wajahmu.

Kadang ayah juga bertanya dalam hati,

“Apakah hari ini aku bisa pulang?”

Namun setiap kali pertanyaan itu datang, wajahmu selalu muncul di pikiran ayah.

Tawa kecilmu.

Suaramu saat memanggil ayah.

Dan dari situlah ayah menemukan keberanian lagi untuk bertahan.

Ayah membayangkan tawamu.
Ayah membayangkan kamu berlari kecil memanggil, “Ayah…”

Dan dari situlah ayah menemukan keberanian lagi.

Nak, jika suatu hari nanti kamu melihat kilauan emas di tangan seseorang, ingatlah bahwa di balik kilau itu ada keringat, ada doa, dan ada perjuangan dari banyak ayah seperti ayahmu.

Ayah tidak tahu apakah suatu hari nanti ayah akan menjadi orang kaya.
Tapi satu hal yang ayah yakini:

Ayah akan terus berjuang sampai kamu tidak perlu merasakan kerasnya hidup seperti yang ayah rasakan sekarang.

Doakan ayah selalu kuat di sini, Nak.

Karena setiap tetes keringat ayah di tanah tambang ini…
selalu membawa satu harapan:

masa depanmu.

Jika suatu hari ayah tidak pulang dari tambang, ingatlah satu hal…

ayah pergi bukan karena meninggalkanmu, tapi karena sedang berjuang untukmu

— Ayahmu,
yang selalu merindukanmu dari lubang tambang yang sunyi.