Kadang aku ingin tertawa melihat sifat manusia di kampung ini.
Tertawa… tapi rasanya pahit.

Sebuah rawa yang sejak dulu jelas diketahui milik dua orang, tiba-tiba hari ini berubah cerita. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba ada yang berdiri dengan penuh keyakinan seolah rawa itu miliknya sendiri.



Padahal selama bertahun-tahun rawa itu hanya rawa biasa.
Airnya keruh.
Lumpurnya dalam.
Tak ada yang peduli.

Tak ada yang datang memasang patok.
Tak ada yang sibuk mengatakan, “Ini tanah saya.”

Tapi begitu kabar tentang emas mulai terdengar…

Aneh sekali.
Tanah yang dulu tak dilirik, sekarang tiba-tiba jadi sangat berharga.

Lucu ya manusia.

Padahal emas itu sendiri belum tentu ada.
Masih sebatas dugaan.
Masih cerita dari serpihan kecil yang katanya pernah ditemukan di sekitar aliran air.

Tapi sebelum emas itu benar-benar keluar dari tanah,
keserakahan manusia sudah lebih dulu keluar dari hatinya.

Pagi tadi kami sudah bersiap bekerja.
Mesin sudah diturunkan.
Paralon sudah disusun rapi.
Tenaga sudah dikeluarkan untuk memulai kerja.

Tapi sebelum mesin sempat hidup…
suara manusia lebih dulu memanas.

Nada bicara mulai meninggi.
Kalimat mulai berubah tajam.

Aku hanya berdiri diam memandang rawa yang airnya keruh itu.
Di kepalaku muncul satu pikiran sederhana:

Emas di dalam tanah belum tentu ada… tapi sifat manusia sudah terlihat semuanya.

Yang dulu biasa saja, tiba-tiba jadi merasa paling berhak.
Yang dulu diam saja, sekarang paling keras bersuara.
Padahal kalau dipikir-pikir, Lebaran sudah semakin dekat.

Seharusnya hati mulai lembut.
Seharusnya orang-orang mulai saling menjaga perasaan.

Sebentar lagi orang akan bersalaman.
Saling memaafkan.
Mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin.”

Tapi ironisnya…
sebelum hari itu datang,
manusia justru sibuk mencari alasan untuk berselisih.

Aku teringat anak dan istriku di kampung.
Lebaran sudah dekat.
Harapan sederhana saja sebenarnya.

Bisa pulang membawa sedikit rezeki.
Bisa membeli baju untuk anak.
Bisa duduk bersama keluarga tanpa memikirkan kerjaan tambang.

Tapi di tempat seperti ini, kadang yang paling melelahkan bukan menggali tanah…
melainkan menghadapi sifat manusia.

Akhirnya kami saling menatap.

Tak perlu banyak kata.
Kami datang ke sini mencari rezeki, bukan mencari musuh.

Tambang memang penting.
Tapi ketenangan hati jauh lebih mahal daripada emas.

Akhirnya kami sepakat.

Bukan karena takut.
Bukan karena kalah.

Tapi karena kami sadar satu hal sederhana:

Tidak semua tempat yang mengandung emas layak diperebutkan.

Mesin kami angkat kembali.
Paralon yang tadi sudah disusun kami bongkar satu per satu.

Kami pindah.

Mungkin di mata orang lain itu terlihat seperti mundur.
Tapi bagiku itu justru cara paling waras untuk tetap menang sebagai manusia.

Biarlah mereka memperebutkan rawa itu.

Kami akan mencari tempat lain.
Karena rezeki tidak hanya ditanam di satu titik tanah saja.

Dan aku percaya satu hal:

Kadang Tuhan menjauhkan kita dari satu tempat…
bukan karena di sana tidak ada emas,
tetapi karena di sana terlalu banyak hati yang sudah keruh seperti air rawa itu sendiri.

Apalagi menjelang Lebaran seperti ini…

Harusnya manusia sibuk membersihkan hati,
bukan malah mempertajam keserakahan.

Dan yang paling ironis dari semua ini adalah:

Sering kali manusia bertengkar hebat
demi emas yang bahkan belum tentu mereka dapatkan.


“Lebaran sudah dekat, tapi sebagian manusia masih sibuk membersihkan tanah… bukan membersihkan hatinya.”