Pukul tiga dini hari aku terbangun.
Bukan karena alarm, bukan karena mimpi buruk.

Tapi karena hujan.

Deras sekali. Awet sekali.
Seperti hujan yang dikasih formalin… tak mau berhenti.

Hari ini sebenarnya sudah ada rencana besar. Kami mau pindah lokasi tambang. Lokasi lama sudah mulai bersengketa. Daripada ribut, daripada nanti saling bermusuhan, lebih baik kami yang mengalah.

Kami memilih pergi… mencari harapan di tempat lain.

Tapi pagi ini alam seakan berkata lain.

Sampai siang, hujan masih turun tanpa rasa bersalah. Jalan ke lokasi pasti sudah jadi lumpur. Licin. Berbahaya. Memaksakan diri hanya akan menambah masalah.

Akhirnya aku hanya bisa duduk diam.

Sambil memandang langit yang tak kunjung terang.

Lebaran tinggal empat hari lagi.
Orang-orang mulai sibuk membeli baju baru.
Supermarket ramai.
Pasar penuh.

Sementara di sini…
kami hanya menghitung sisa tenaga dan sisa harapan.

Kadang hidup memang terasa tidak adil.
Yang bekerja keras belum tentu cepat merasakan hasil.
Yang berjuang mati-matian, justru sering diuji bertubi-tubi.

Tapi hidup memang bukan soal siapa yang paling cepat sampai.

Melainkan siapa yang masih sanggup berdiri saat semua terasa ingin berhenti.

Hari ini hujan mungkin menahan langkah kami.
Besok mungkin jalan masih licin.

Tapi selama dada ini masih bisa menarik napas,
kami akan tetap berjalan.

Karena bagi orang kecil seperti kami,
berhenti berjuang bukan pilihan.