Hari ini aku benar-benar tak tahu harus berkata apa.

Pikiran rasanya penuh, tapi anehnya kosong. Badan lelah seperti diperas sejak pagi, sementara harapan seperti digantung di langit yang terlalu tinggi untuk digapai.

Lebaran tinggal lima hari lagi.

Orang-orang mulai sibuk membicarakan baju baru, kue lebaran, dan rencana pulang kampung. Sementara di sini, aku hanya duduk menatap hari yang terasa berat.

Bukan karena tidak ingin pulang… Tapi karena keadaan belum memberi izin.

Kadang hati ini terasa perih saat memikirkan keluarga di kampung. Anak mungkin sedang menghitung hari menunggu takbir. Istri mungkin menyiapkan apa saja yang bisa disiapkan dengan keadaan yang sederhana.

Dan aku di sini…

Masih berjuang dengan tangan yang kotor oleh tanah, dengan harapan kecil yang kadang muncul, kadang tenggelam.

Hari ini rasanya tidak ada cerita heroik. Tidak ada kabar besar. Tidak ada hasil yang bisa dibanggakan.

Yang ada hanya seorang lelaki yang kelelahan, yang masih mencoba bertahan…
meski dadanya penuh rasa yang sulit dijelaskan.
Kadang hidup memang seperti ini. Sunyi, berat, dan terasa panjang.
Tapi entah kenapa… di dalam kelelahan ini masih ada satu keyakinan kecil yang bertahan:

Bahwa perjuangan hari ini, sekecil apa pun, suatu saat akan menjadi cerita yang layak dikenang.

Dan mungkin… suatu hari nanti aku akan membaca kembali hari-hari seperti ini sambil tersenyum.

Karena pernah ada masa di mana seorang ayah tetap berdiri, meskipun hatinya hampir patah.