Entahlah... hari ini aku bahkan sudah kehabisan kata-kata.
Mengeluh? Untuk apa. Keluhan tidak pernah berubah jadi uang.
Aku hanya bisa menarik napas panjang… lalu mencoba menerima semuanya.
Mesin penambang yang selama ini kupaksa bekerja akhirnya menyerah juga.
Seperti prajurit tua yang sudah terlalu lama berperang, hari ini ia angkat bendera putih.
Bukan karena tak mau bekerja… tapi memang sudah tak sanggup lagi.
Sementara hasil tambang?
Lebih sering memberi harapan… daripada memberi emas.
Lebaran tinggal menghitung hari.
Orang-orang mulai bicara soal baju baru, kue lebaran, dan rencana pulang kampung.
Aku?
Masih duduk di sini… menatap mesin rusak dan tanah galian.
Dengan apa aku akan pulang?
Jangankan membeli baju lebaran untuk anak dan istriku.
Untuk biaya perjalanan pulang saja… bayangannya pun belum ada.
Kadang aku bertanya dalam hati…
Apa seorang ayah boleh merasa gagal saat lebaran datang, tapi tangannya kosong?
Namun hidup tidak memberi pilihan untuk berhenti.
Besok aku tetap harus bangun pagi.
Tetap harus menggali tanah yang sama.
Bukan karena aku kuat.
Tapi karena di rumah…
ada anak yang masih memanggilku ayah.
Dan selama panggilan itu masih ada,
aku belum boleh menyerah.