Pagi ini aku duduk diam dengan secangkir kopi susu di tangan.
Langit kelabu menggantung rendah, seolah ikut menundukkan kepala. Hujan turun deras, membasahi bumi tanpa jeda—seperti langit yang sedang menumpahkan sesuatu yang tak mampu lagi ditahannya.
Hari ini aku sengaja membuat kopi dengan gula.
Bukan tanpa alasan.
Biasanya aku minum kopi pahit. Tanpa gula.
Tapi pagi ini… rasanya aku tidak sanggup menambah pahit lagi.
Karena hidup yang sedang kujalani sudah cukup pahit rasanya.
Ada kesedihan yang diam-diam duduk di dalam dada.
Segala rencana sudah disusun rapi, dipikirkan matang, dihitung dengan harapan besar. Namun kenyataan tetap berjalan dengan caranya sendiri—tanpa peduli betapa keras kita berusaha.
Begitulah hidup.
Di dunia ini manusia hanya bisa merencanakan.
Tapi keputusan terakhir tetap berada di tangan Allah.
Jika Allah belum mengijabah,
sekuat apa pun kita memaksa keadaan,
tak ada satu usaha pun yang mampu mengalahkan kehendak-Nya.
Sementara itu… takbir mulai terasa sayup-sayup di telinga.
Sebentar lagi orang-orang akan saling berpelukan.
Rumah-rumah dipenuhi aroma makanan.
Anak-anak memakai baju baru.
Namun di sini keadaannya berbeda.
Dompet kosong.
Mesin tambang masih berserakan di lantai—diam, kotor, seperti tentara yang baru kalah perang.
Belum bisa diajak berjuang lagi.
Kadang hidup memang menampar seperti ini.
Bukan untuk menjatuhkan… tapi untuk mengingatkan.
Bahwa di dunia ini, tidak semua orang menyambut hari raya dengan tawa.
Sebagian orang menyambut takbir dengan dada yang penuh luka…
dan senyum yang dipaksakan.