Hari ini, sekitar pukul dua siang, setelah hujan akhirnya memberi jeda, aku melangkah menuju KM 6. Bukan sekadar berjalan, tapi membawa harapan yang belum juga padam.

Tanah masih basah, jejak kaki terasa berat, tapi langkah ini harus tetap maju. Aku datang bukan tanpa alasan—aku sedang mencari titik baru, tempat untuk menggantungkan sedikit harapan menjelang lebaran.

Dari beberapa titik yang kudulang, ada tanda-tanda yang membuat hati ini sedikit lebih tenang. Materialnya cukup meyakinkan. Butiran-butiran kecil itu seakan berbisik, “di sini masih ada peluang.”

Belum pasti. Belum juga nyata. Tapi setidaknya, hari ini aku tidak pulang dengan tangan kosong—aku pulang dengan keyakinan.

Dan hari ini aku juga sudah mengambil keputusan—lokasi ini akan digarap setelah lebaran. Bukan keputusan besar yang diiringi kepastian, tapi langkah berani di tengah keadaan yang serba tidak pasti.

Lebaran tinggal menghitung hari. Di tengah segala tekanan dan kebutuhan, aku sadar… mungkin bukan sekarang waktunya panen, tapi menanam harapan.

Semoga setelah lebaran nanti, dari tanah ini, ada rezeki yang benar-benar bisa dibawa pulang. Bukan sekadar cerita perjuangan, tapi bukti bahwa usaha tidak pernah mengkhianati hasil.

Karena pada akhirnya… hidup ini bukan tentang seberapa cepat kita berhasil, tapi seberapa kuat kita bertahan dan terus mencoba.