“Nak, tolong ayah angkut karet ke pengepul ya. Tapi hati-hati… jalannya licin.”
Kalimat sederhana. Tapi aku tahu, itu bukan sekadar permintaan. Itu titipan kepercayaan. Dan di hidup seperti ini—kepercayaan jauh lebih berat daripada 30 kilo karet.
Pagi datang tanpa benar-benar terang. Langit mendung, tanah masih menyimpan sisa hujan semalam. Udara dingin, basah, dan jujur saja—tidak bersahabat.
Tapi hidup tidak pernah tanya: “Kamu siap atau tidak?”
Kopi habis. Motor tua—Honda Astrea Grand 1996—ku panaskan. Mesin tuanya bergetar pelan, seolah berkata, “Kalau kau berani jalan, aku ikut.”
Aku berangkat.
Sampai di simpang ladang, aku berhenti. Bukan karena takut… tapi karena sadar diri. Jalan di depan bukan sekadar tanjakan. Itu lumpur, air mengalir, dan jebakan bagi siapa saja yang lengah.
Aku tarik napas panjang.
Lalu tetap jalan.
Dan benar saja—aku jatuh.
Sekali.
Dua kali.
Entah sudah berapa kali roda kehilangan pijakan, badan terhempas ke tanah, tangan kotor, kaki terpeleset. Tapi yang lebih menyakitkan bukan jatuhnya…
…melainkan kenyataan bahwa tidak ada yang peduli kamu jatuh atau tidak.
Jalan itu tidak peduli.
Hujan semalam tidak peduli.
Dunia ini tidak pernah peduli.
Kalau kamu berhenti di situ, ya sudah—selesai.
Akhirnya aku sampai di atas. Nafas berat, badan kotor, tapi pekerjaan belum selesai. Karet beku ku angkat, kumasukkan ke dalam karung. Sekitar 30 kg.
Tidak ringan.
Tapi mari jujur—yang membuatnya terasa berat bukan timbangannya.
Melainkan hidup yang tidak pernah mau ringan.
Aku tidak langsung turun. Aku lihat sekitar. Aku tahu satu hal—turunan licin itu jauh lebih berbahaya daripada tanjakan tadi.
Orang bodoh akan langsung gas.
Orang yang ingin sampai rumah akan berpikir.
Aku ambil parang. Kutebang beberapa batang. Kuikat di belakang motor—bukan untuk gaya, tapi untuk menahan. Untuk berjaga. Untuk memastikan aku tidak jadi cerita duka di hari ini.
Pelan… sangat pelan aku turuni jalan itu.
Motor tua ini tidak hebat. Tidak baru. Tidak keren.
Tapi hari ini dia lebih setia daripada banyak manusia—tidak banyak alasan, tidak banyak drama, hanya jalan terus.
Dan akhirnya…
Aku sampai di simpang.
Aku lanjut ke pengepul.
Ditimbang—30 kg.
Selesai?
Tidak.
Hari ini bukan tentang karet. Bukan tentang motor tua. Bahkan bukan tentang jatuh bangun di jalan licin.
Ini tentang satu tamparan keras yang sering kita hindari:
«Hidup tidak akan pernah melunak hanya karena kamu sedang lelah.»
Kita ini sering aneh.
Maunya hasil, tapi ogah luka.
Maunya sampai, tapi takut jatuh.
Maunya dihargai, tapi lari dari tanggung jawab.
Padahal realitanya sederhana:
Kalau kamu tidak kuat menahan licin, jangan mimpi bisa berdiri di puncak.
Hari ini aku jatuh berkali-kali.
Hari ini aku kotor.
Hari ini aku capek.
Tapi satu hal yang tidak aku lakukan—
Aku tidak berhenti.
Karena di dunia seperti ini, yang kalah bukan yang jatuh…
Tapi yang memutuskan untuk tidak bangkit lagi.
Hari ini bukan soal mengantar karet. Ini tentang memahami satu hal:
Hidup itu bukan soal seberapa sering kamu jatuh di jalan licin… tapi seberapa keras kamu menolak untuk tinggal di sana.