Siang ini matahari terasa lebih kejam dari biasanya. Teriknya bukan hanya membakar kulit, tapi juga seperti menguliti harga diri yang tersisa sedikit demi sedikit.
Aku melangkah keluar rumah, menatap motor tua yang setia menunggu. Mesin itu mungkin sudah lelah… tapi tidak pernah mengeluh. Tidak seperti aku, yang hari ini dipenuhi sesak di dada.
Perlahan ku hidupkan mesinnya. Suaranya kasar, bergetar… seolah tahu beban yang sedang kubawa. Gas kutarik pelan. Bukan karena takut jatuh… tapi karena aku sendiri tidak yakin, apa yang sebenarnya sedang aku kejar.
Lebaran kali ini… bukan tentang kebahagiaan.
Ini tentang keberanian untuk pulang… meski tak membawa apa-apa.
Aku pulang dengan tangan kosong.
Tanpa hasil.
Tanpa kebanggaan.
Hanya membawa pikiran yang penuh… dan hati yang terasa kalah.
Di dalam saku celanaku, hanya ada Rp100.000.
Itu pun bukan hasil keringatku hari ini.
Itu pemberian… dari seorang teman, yang mungkin lebih mengerti arti pulang daripada aku sendiri.
Dia tidak banyak bicara.
Tapi dari uang itu, aku tahu…
Masih ada yang peduli ketika dunia seakan menutup pintunya.
Uang ini cukup untuk perjalanan.
Cukup untuk sampai ke rumah.
Cukup untuk melihat wajah anak dan istriku.
Tapi tidak cukup untuk menutupi rasa gagal ini.
Yang paling berat bukan perjalanan pulangnya…
Tapi perjalanan kembali setelah lebaran nanti.
Dengan apa aku akan kembali?
Dengan harapan… atau hanya nekat yang tersisa?
Namun satu hal yang aku tahu pasti—
Sehancur apapun hari ini, aku tetap harus pulang.
Karena di sana… ada alasan kenapa aku harus bangkit lagi, meski berkali-kali jatuh.
“Kadang hidup tidak menghancurkanmu dengan kegagalan… tapi dengan kenyataan bahwa kamu harus tetap pulang, meski tidak membawa apa-apa.”