Aku masih di perjalanan.
Ya... aku belum sampai dikampung.
Belum bertemu istri dan anakku.
Dan untuk pertama kalinya, aku mulai merasa… mungkin pulang bukan lagi tentang jarak, tapi tentang kemampuan untuk tetap kuat.
Lebaran tinggal hitungan hari.
Orang-orang sudah bersiap membawa kebahagiaan ke rumah.
Sementara aku… masih berkutat dengan kegagalan yang seolah tak ada habisnya.
Kerjaanku di tambang kacau.
Penghasilan hampir tak ada.
Mesin penambang juga meledak.
Dan hari ini, perjalanan pulangku ikut runtuh di tengah jalan.
Semua seperti datang bersamaan.
Tanpa jeda.
Tanpa ampun.
Pukul 18:10, menjelang berbuka puasa di Tanjung Gadang.
Motor tua kesayanganku—yang selama ini setia—tiba-tiba kehilangan tenaga.
Pelan… lalu mati.
Aku diam beberapa detik. Mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Berharap ini hanya gangguan kecil.
Tapi tidak.
Motor itu benar-benar berhenti. Dan aku tahu… masalah baru saja dimulai.
Pukul 18:20 – 19:00
Aku mendorong motor itu. Kurang lebih satu kilometer.
Tidak ada suara selain napasku yang mulai berat.
Keringat membasahi badan, bahkan sebelum aku sempat membatalkan rasa lelah.
Tak ada yang bertanya.
Tak ada yang peduli.
Dan di situlah aku sadar!!, perjuangan paling berat memang selalu sepi.
Pukul 19:05, Aku menemukan sebuah bengkel.
Harapan muncul…
tapi hanya sebentar.
Montirnya tidak ada.
Aku duduk.
Menunggu.
Sambil sesekali mencoba memperbaiki motor dengan kemampuan seadanya.
Hasilnya nihil.
Pukul 20:00
Montir itu akhirnya datang.
Dia memeriksa.
Mencoba memperbaiki.
Dan… motor itu hidup kembali.
Ada rasa lega yang sulit dijelaskan.
Seolah semua beban tadi sempat terangkat.
Tapi ternyata… itu hanya jeda.
Pukul 20:15. Montir itu berkata pelan:
“Ini harus turun mesin…”
Ring piston.
Piston.
Skir klep.
Rantai keteng.
Pompa oli.
Blok mesin.
Dll.
Aku tidak terlalu paham akan semuanya.
Tapi aku paham satu hal— ini bukan masalah kecil.
Dan ini tidak bisa diselesaikan malam ini.
Aku hanya diam. Mengangguk. Tanpa tahu harus berkata apa.
Pukul 20:30
Aku tetap melanjutkan perjalanan.
Pelan.
Sangat pelan.
Dengan harapan yang dipaksakan.
Pukul 21:28. Di simpang Lubuak Tarok…
motor itu kembali berhenti.
Dan kali ini… benar-benar tidak bisa hidup lagi.
Aku mencoba berkali-kali.
Tapi hasilnya sama.
Sunyi.
Aku menyerah.
Aku duduk di bawah lampu jalan.
Sendiri.
Dengan motor tua yang sudah tak berdaya.
HP mati.
Sekitar gelap dan sepi.
Tak ada warung.
Tak ada tempat berteduh.
Hanya aku… dan pikiran yang mulai terasa berat.
Aku tidak menangis. Tapi rasanya lebih menyakitkan dari itu.
Karena yang terasa bukan hanya lelah—tapi juga kegagalan.
Pukul 22:00
Aku menemukan bengkel perabot di pinggir jalan.
Ada colokan atau terminal listrik.
Aku cas HP dengan sisa tenaga yang ada.
Sambil menunggu, aku hanya duduk.
Diam.
Kosong.
Seolah tidak ada lagi yang bisa dipikirkan.
Pukul 22:45
HP menyala.
Aku buka kontak.
Satu per satu nama kulihat.
Tapi aneh… aku ragu.
Bukan karena tidak ada orang,
tapi karena aku takut merepotkan.
Takut dianggap tidak mampu.
Padahal kenyataannya… memang tidak mampu.
Pukul 23:00
Aku akhirnya memberanikan diri menghubungi satu nama—
Mhabib.
Satu-satunya harapan malam itu.
Aku kirim pesan.
Dan menunggu.
Pukul 23:30
Balasan datang.
Dan tak lama… bantuan itu benar-benar datang.
Aku dijemput.
Ditanya keadaan.
Ditanya motor.
Aku menjawab seperlunya.
Karena sisanya… terlalu lelah untuk diceritakan.
Motor itu tidak bisa didorong.
Dan akhirnya aku yang mendorongnya, ditarik dengan motor lain.
Ironis…
tapi itu kenyataan.
Pukul 00:30. Aku sampai di rumah kakak ipar.
Tubuh ini akhirnya berhenti bergerak.
Tapi pikiran… masih berjalan ke mana-mana.
Aku duduk.
Dengan secangkir kopi tanpa gula.
Dan sebatang rokok yang terasa hambar.
Dan sekarang…
Pukul 01:22
Aku menulis ini.
Dengan satu kenyataan yang sulit diterima:
Lebaran sudah dekat.
Aku belum sampai rumah.
Belum bertemu istri dan anakku.
Dan mungkin…
aku pulang tanpa membawa apa-apa.
Malam ini aku belajar sesuatu yang menyakitkan:
T
idak semua orang gagal karena tidak berusaha.
Kadang, mereka sudah berjuang habis-habisan…
tapi tetap saja tidak cukup.
Aku tidak tahu besok bagaimana.
Motor itu harus dibongkar.
Dan aku mungkin harus pulang dengan cara lain.
Tapi untuk sekarang…
aku hanya ingin berhenti sejenak.
Karena ternyata…
menjadi kuat itu juga ada batasnya.