Matahari belum terlalu tinggi saat kami mulai bekerja di lokasi baru ini. Hutan masih basah oleh embun pagi, tapi tenaga sudah harus diperas sejak awal. Batu-batu besar seperti penjaga tua berdiri di tengah lubang galian, seakan menantang siapa pun yang ingin mengambil sesuatu dari perut bumi.

Air keruh berputar di antara batu. Selang dan paralon kami bekerja keras menghisap lumpur, tapi hari ini mesin seperti ikut menguji kesabaran. Beberapa kali macet. Paralon bahkan pecah, membuat kami harus berhenti, memperbaiki, lalu memulai lagi dari awal.

Setiap kali mesin berhenti, rasanya seperti harapan ikut terhenti sebentar.

Batu-batu di lokasi ini tidak kecil. Beberapa harus digeser dengan tenaga penuh, sebagian lagi hanya bisa dipandang sambil menghela napas panjang. Tangan penuh lumpur, baju basah oleh keringat dan air, tapi pekerjaan tidak boleh berhenti.

Di tengah kelelahan itu, ada satu hal yang membuat semangat kembali naik: di dasar lumpur tadi, terlihat butiran kecil yang berkilau.

Tidak banyak.
Tidak cukup untuk membuat orang lain kagum.
Tapi bagi kami, itu cukup untuk mengatakan:

Hari ini perjuangan tidak sia-sia.

Menjelang sore, kami duduk sebentar di pinggir lubang galian. Air masih keruh, batu masih besar, mesin masih perlu diperbaiki lagi besok. Tapi di hati ada sedikit rasa lega.

Karena kadang dalam pekerjaan seperti ini, bukan hanya emas yang dicari.

Kesabaran juga ikut ditambang setiap hari.

Dan hari ini, kami mendapatkan keduanya—walaupun sedikit.