Kukeluarkan dompet itu perlahan, lalu kubuka. Di dalamnya hanya ada dua lembar uang lima ribu rupiah. Tidak lebih.
Aku menatapnya sejenak.
Senyum kecil terbit di wajahku, tapi rasanya pahit. Lebaran sudah semakin dekat. Namun pekerjaan di tambang beberapa hari ini belum juga memberi hasil. Jangankan untuk pulang kampung atau mengirim sedikit uang ke rumah, untuk membeli satu liter minyak motor saja masih belum cukup.
Aku terdiam.
Di kepala terlintas wajah anak dan istri di kampung. Rindu yang datang tanpa permisi. Rasanya ingin segera pulang, tapi keadaan berkata lain.
Namun hidup memang sering menguji dengan cara seperti ini. Saat harapan terasa jauh, saat usaha belum juga berbuah, kita hanya bisa tetap berdiri, tetap bekerja, dan tetap percaya bahwa roda nasib tidak akan selamanya berada di titik yang sama.
Dompet hitam yang lusuh itu kututup kembali. Kumasukkan ke dalam tas.
Besok pagi aku akan kembali ke lokasi tambang.
Siapa tahu, tanah yang hari ini diam saja… besok mulai bercerita.