Pagi ini aku memulai hari dengan tangan yang masih terasa pegal. Rantai motor Astrea Grand yang kemarin putus akhirnya kuperbaiki juga. Tidak ada bengkel lengkap, hanya peralatan seadanya dan tekad supaya perjalanan tetap bisa dilanjutkan. Pelan-pelan kususun mata rantai itu, kuperhatikan sambungannya, kuatur ketegangannya. Sederhana, tapi rasanya seperti sedang menyambung semangat yang sempat terputus.

Istriku yang tengah hamil enam bulan dan anak perempuanku sudah berada di rumah kakak ipar. Setidaknya mereka aman dan nyaman di sana. Itu membuat pikiranku jauh lebih tenang. Kadang beban bukan pada pekerjaan, tapi pada rasa khawatir yang diam-diam menggerogoti. Hari ini, kekhawatiran itu sedikit mereda.

Setelah memastikan motor siap jalan, aku menatapnya sejenak. Astrea tua ini mungkin sudah tak lagi muda, tapi ia tetap setia menemani langkah-langkah perjuanganku. Seperti hidup, kadang yang kita butuhkan bukan yang paling baru, tapi yang paling tangguh bertahan.

Perjalanan menuju lokasi kerja kembali bisa dilanjutkan. Dengan rantai yang sudah tersambung dan hati yang sedikit lebih ringan, aku melaju pelan. Angin pagi terasa berbeda—lebih bersahabat. Mungkin karena aku tahu, di balik segala ujian kecil ini, ada keluarga yang menunggu dengan doa.

Hari ini bukan tentang motor yang rusak. Ini tentang tanggung jawab yang tak boleh berhenti hanya karena satu rantai putus.