Hari ini benar-benar menguras tenaga. Perjalanan dari rumah kakak ipar menuju lokasi kerja terasa lebih panjang dari biasanya. Bukan hanya jaraknya, tapi juga isi kepala yang penuh kekhawatiran.

Rantai motor yang kusambung pagi tadi masih terbayang-bayang. Rasanya belum sepenuhnya percaya diri. Setiap bunyi kecil di jalan membuat hati waspada. Tapi ternyata bukan rantai yang berulah.

Takdir hari ini datang dari arah yang berbeda.

Sebuah paku kecil, entah dari mana asalnya, menancap manis di ban. Perlahan angin habis, motor oleng, dan akhirnya berhenti total. Mau tak mau, aku harus mendorong motor di bawah terik matahari. Jalan terasa makin jauh, matahari seperti berdiri tepat di atas kepala. Keringat membasahi baju hingga benar-benar kuyup.

Tidak ada pilihan selain terus melangkah.

Bengkel tambal ban pun tidak langsung ditemukan. Jaraknya cukup jauh. Setiap langkah terasa berat, tapi pikiran hanya satu: harus sampai. Dan akhirnya, setelah sekian lama, ketemu juga bengkel sederhana di pinggir jalan.

Namun ujian belum selesai. Ban dalamnya ternyata robek besar. Tidak bisa ditambal. Harus diganti.

Hari ini mengajarkan satu hal lagi: yang kita khawatirkan belum tentu terjadi, dan yang tak terpikirkan justru datang menguji. Tapi selama kaki masih bisa melangkah dan tangan masih bisa mendorong, perjalanan tidak pernah benar-benar berhenti.

Lelah? Jelas.
Menyerah? Tidak hari ini.