Barang yang kami bawa tidak sedikit. Karung beras, dua tas besar berisi pakaian, dan satu kardus berisi kucing Persia. Semua kutaruh di depan. Anak perempuanku duduk di belakang sambil memelukku erat. Di belakangnya lagi, istriku yang sedang hamil enam bulan memegang kardus si kucing.
Jujur, di perjalanan emosiku naik turun. Kucing itu terus meronta, seolah ingin bebas di tengah jalan. Kardus bergoyang, istriku berusaha menahan, dan aku harus tetap fokus pada jalan. Rasanya campur aduk—kesal, khawatir, tapi juga sadar bahwa ini bagian dari tanggung jawabku.
Aku membawa mereka ke rumah kakak istriku. Bukan tanpa alasan. Aku tak mungkin meninggalkan istri dan anak di rumah saat aku harus bekerja jauh, apalagi dalam kondisi kehamilan enam bulan. Sebagai kepala keluarga, ada rasa tenang ketika tahu mereka berada di tempat yang lebih aman.
Namun ujian belum selesai. Rantai motorku tiba-tiba putus di jalan. Suara keras itu seperti menampar kesabaranku yang sudah tipis. Untungnya, kejadian itu tidak jauh dari rumah tujuan. Kalau sampai putus di tengah jalan yang sepi, mungkin ceritanya akan lebih panjang dan lebih melelahkan.
Sore ini mengajarkanku lagi tentang arti tanggung jawab. Tentang bagaimana seorang lelaki kadang harus menelan kesal, menahan lelah, dan tetap terlihat kuat di depan keluarganya.
Motor boleh tua. Rantai boleh putus. Beban boleh berat.
Tapi selama niatku menjaga keluarga tetap utuh, aku yakin Tuhan tidak pernah benar-benar meninggalkanku di jalan.
Besok mungkin masih ada ujian lain. Tapi hari ini, setidaknya aku sampai dengan selamat. Dan itu sudah cukup.