Di dalam kulkas ada sebongkah daging sapi. Tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membuat sesuatu yang berarti. Aku berpikir, hari ini harus ada yang spesial untuk istri dan anakku. Bukan karena ada perayaan, tapi karena keluarga memang layak dirayakan setiap hari.
Aku memilih membuat daging kuah kecap gurih. Rempah-rempah alami aku racik perlahan—bawang merah, bawang putih, lada, sedikit jahe, dan kecap manis yang mengikat semuanya jadi satu. Aroma tumisan memenuhi dapur. Wangi yang sederhana, tapi dalam. Seperti rumah.
Daging kumasak sampai empuk. Kuahnya mengental, berwarna cokelat pekat, mengilap, dengan rasa gurih manis yang seimbang. Tidak mewah, tapi jujur.
Saat makanan tersaji dan kami duduk bersama, aku melihat sesuatu yang tidak bisa dibeli: wajah gembira dari istri dan anakku. Senyum yang tulus. Anak lahap menyuap nasi, istri tersenyum sambil berkata rasanya enak.
Di momen itu aku sadar, bahagia itu bukan soal besar kecilnya rezeki. Tapi tentang bagaimana kita mengolah apa yang ada menjadi sesuatu yang menghangatkan.
Hari ini aku tidak hanya memasak daging.
Aku memasak rasa syukur.
_Kidigo