Sore tadi sekitar pukul 16.00, sebuah kabar datang seperti petir di langit yang sebenarnya cerah. Seorang penambang emas tertimbun material di lokasi yang cukup jauh dari tempatku bekerja. Awalnya hanya terdengar sebagai berita biasa di antara para pekerja. Tapi setelah kucari tahu lebih dalam, ternyata dia bukan orang asing.

Dia pernah menjadi teman kerjaku dulu. Pernah berdiri di sisi yang sama, menggenggam alat yang sama, menghadapi lumpur dan risiko yang sama.

Dan hari ini, takdirnya berhenti di sana.

Katanya, ia tidak tertolong.

Aku terdiam cukup lama. Di dunia tambang, kita semua tahu risikonya nyata. Tanah bisa runtuh tanpa aba-aba. Material bisa berubah jadi ancaman dalam hitungan detik. Tapi ketika kabar itu menyentuh nama yang pernah kita kenal, rasanya berbeda. Lebih sunyi. Lebih berat.

Aku membayangkan keluarganya. Istri, anak, orang tua—entah siapa saja yang kini menunggu kepulangannya yang tak akan pernah tiba. Di balik setiap penambang, selalu ada keluarga yang berharap ia pulang dengan selamat.

Sore ini bukan hanya tentang kehilangan satu orang. Ini pengingat keras bahwa hidup di lokasi seperti ini bukan sekadar soal mencari nafkah, tapi juga soal menjaga diri, saling mengingatkan, dan tidak meremehkan risiko sekecil apa pun.

Semoga ia mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.
Dan semoga kami yang masih bekerja di sini selalu diberi kewaspadaan, keselamatan, dan kesempatan untuk pulang dengan utuh.

Hari ini hati terasa lebih berat dari karung material mana pun yang pernah kuangkat.