Tidak seperti hari-hari biasa, kali ini aku harus berendam cukup lama di dalam air sambil memegang kepala spiral untuk menyedot material yang diduga mengandung emas. Posisi itu bukan hanya menguji kekuatan tangan, tapi juga kesabaran. Airnya keruh pekat, warnanya seperti kopi susu yang terlalu banyak ampas. Jarak pandang nyaris nol. Yang terlihat hanya pusaran lumpur dan gelembung kecil yang naik ke permukaan.
Di dalam keruh itu, aku sadar satu hal: mencari emas memang tidak pernah dalam air yang jernih. Justru di lumpur, di keruh, di tempat yang tak nyaman—di situlah harapan diuji.
Tubuh boleh lelah, kulit boleh keriput karena terlalu lama berendam, tapi semangat tidak boleh ikut tenggelam. Setiap hisapan spiral adalah doa yang tak terdengar. Setiap material yang terangkat adalah kemungkinan.
Hari ini mungkin melelahkan. Tapi selama tangan ini masih menggenggam dan kaki ini masih berpijak, perjalanan belum selesai.