Sesampainya di lokasi, kami duduk sejenak di atas tanah kering. Sebatang rokok menjadi teman berpikir, sementara mata kami menyapu hamparan lahan, mencoba membaca alam: di mana kiranya tempat terbaik untuk mengumpulkan peralatan dan memulai lubang tambang baru.
Setelah diskusi singkat, kami mulai bekerja. Besi-besi dibongkar, mesin dipindahkan perlahan. Namun di tengah kesibukan itu, hidungku menangkap bau yang tidak biasa—bau tajam yang menusuk. Aku mendekati mesin, memeriksa dengan hati-hati. Ternyata benar saja, selang minyak mesin terlepas. Minyaknya sudah tumpah habis membasahi tanah.
Aku memanggil temanku. Kami berdua berdiri memandangi mesin itu seperti dua orang yang sedang mencoba menerima kenyataan.
Hari ini… mesin kami harus diam.
Tanpa minyak cadangan, tak ada yang bisa dilakukan selain pasrah. Kami hanya saling menatap dan tertawa kecil—tawa tipis yang biasanya muncul ketika nasib sedang menguji kesabaran.
Setelah semua mesin selesai dipindahkan dan dibongkar, kami beristirahat di bawah terik matahari yang menyengat kulit. Keringat bercampur debu, tapi hati tetap mencoba tenang. Kadang perjuangan memang tidak selalu tentang hasil hari ini, tetapi tentang kesiapan untuk mencoba lagi esok hari.
Peralatan sudah mulai kami rakit kembali. Besok kami akan datang lagi dengan minyak cadangan. Dan seperti biasa, kami akan kembali bertiga.
Tambang ini mungkin hanya lubang di tanah bagi sebagian orang. Tapi bagi kami, di sinilah harapan digali—sedikit demi sedikit, bersama keringat dan kesabaran.
Besok, mesin itu akan hidup kembali.