Pagi ini kami kembali menata harapan di lokasi tambang. Setelah mempertimbangkan kondisi lubang yang kemarin, akhirnya diputuskan bahwa tempat itu sudah tidak memungkinkan untuk dilanjutkan. Alam seakan memberi isyarat bahwa kami harus memulai dari titik yang baru.

Peralatan tambang pun harus digeser sekitar 250 meter ke atas. Bukan pekerjaan ringan, karena setiap mesin, selang, dan rangka besi memiliki beratnya sendiri. Namun begitulah kehidupan di tambang—tenaga, kesabaran, dan kekompakan menjadi modal utama.

Lubang tambang yang lama tidak kami tinggalkan begitu saja. Tempat itu akan dijadikan sebagai penampung air yang nantinya disedot untuk membantu proses kerja di lokasi baru. Dari lubang yang tidak lagi memberi harapan, justru lahir fungsi baru yang tetap bermanfaat.

Langkah kecil pagi ini mungkin terlihat sederhana: memindahkan alat, menggali tanah, dan memulai lubang baru. Tapi di balik semua itu ada keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan niat baik tidak akan sia-sia.

Di tambang, kami belajar satu hal sederhana: jika satu jalan tertutup, bukan berarti perjalanan selesai. Kadang hanya perlu menggali di tempat yang berbeda.