Kidigo

Diari Lebaran - Pagi yang Sederhana, Hati yang Luas

Diari Lebaran - Pagi yang Sederhana, Hati yang Luas


Pagi ini, langit seolah ikut bersujud. Udara terasa lebih lembut dari biasanya. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba—hari kemenangan bagi mereka yang mampu bertahan, bukan hanya dari lapar dan haus, tapi juga dari segala ujian hidup.

Aku, istriku, dan anakku melangkah pelan menuju mesjid. Jalanan masih basah oleh embun, seakan semesta ikut membersihkan diri. Di antara langkah-langkah itu, ada rasa haru yang sulit dijelaskan.

Baju yang kami kenakan bukanlah yang baru. Itu adalah baju lebaran tahun lalu. Tidak mewah, tidak pula mencolok. Namun masih layak, masih pantas, dan yang terpenting—masih mampu menutup tubuh dengan baik.

Aku sempat menunduk sejenak.

Bukan karena malu… tapi karena sedang belajar menerima.

Di sekeliling, kulihat banyak yang tampil dengan pakaian terbaik mereka. Wajah-wajah berseri, tawa ringan, dan kebahagiaan yang terasa begitu dekat. Sementara aku… hanya bisa menggenggam tangan anakku lebih erat, dan berjalan di samping istriku dengan hati yang penuh doa.

Lebaran kali ini mungkin tidak membawa banyak harta. Tidak ada bingkisan mewah, tidak ada cerita keberhasilan yang bisa dibanggakan.

Tapi ada satu hal yang tetap utuh—

Kebersamaan.

Dan mungkin, itu adalah bentuk rezeki yang sering kita lupakan.

Di dalam mesjid, saat takbir berkumandang, dadaku terasa sesak. Bukan karena kesedihan semata, tapi karena ada harapan yang diam-diam tumbuh di antara luka.

Bahwa hidup tidak selalu tentang apa yang kita bawa pulang…
Tapi tentang siapa yang tetap ada di samping kita, meski kita pulang dengan tangan kosong.

Hari ini, aku belajar satu hal:

Tidak semua kemenangan dirayakan dengan kemewahan. Ada yang dirayakan dengan keikhlasan… dan itu jauh lebih kuat.

Selamat menunaikan ibadah Sholat Idul Fitri.
Mohon maaf lahir dan batin.

BAGIKAN:
0 MIN READ