Hari ini terasa sedikit berbeda dari Lebaran biasanya.
Bukan karena takbir yang sunyi, atau hidangan yang sederhana…
Tapi karena hari raya yang tak lagi serentak.
Ada yang sudah lebih dulu memakai baju terbaiknya di hari Kamis.
Ada yang menyusul di hari Jumat.
Bahkan ada yang masih menunggu hingga Sabtu, atau Minggu nanti.
Sementara aku…
Aku memilih pulang ke satu tempat yang selalu sama: keluarga.
Bukan karena aku paling benar.
Bukan juga karena aku paling tahu.
Tapi karena di tengah banyaknya perbedaan,
aku ingin tetap punya satu hal yang tidak berubah—
kebersamaan.
Pagi ini, takbir tetap menggema di dada,
meski di luar sana sebagian orang masih berpuasa.
Aku sadar…
bahwa Lebaran bukan hanya soal tanggal yang sama,
tapi tentang hati yang sama-sama ingin kembali bersih.
Tak ada yang salah dengan Kamis.
Tak ada yang keliru dengan Jumat.
Dan tak ada yang lebih tinggi dari Sabtu atau Minggu.
Karena pada akhirnya…
kita semua sedang menuju satu hal yang sama:
kembali kepada fitrah.
Dan mungkin,
di tengah perbedaan ini, Tuhan sedang mengajarkan kita satu hal sederhana—
bahwa persatuan tidak selalu harus seragam.