Daftar Isi

Sesuatu yang perlahan retak

Logbook #14102026


Entah kenapa, malam ini aku teringat pada sebuah kaca.

Kaca itu samar-samar terlihat retak. Tidak terlalu jelas, tetapi cukup untuk membuatku menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak lagi sama.

Aku jadi bertanya-tanya, sejak kapan retakan itu mulai muncul? Apa penyebabnya? Dan entah sampai kapan ia akan tetap seperti itu?

Ada banyak hal yang bisa membuat kaca retak. Benturan dari luar, tekanan, atau sesuatu yang menghantamnya berkali-kali. Hal-hal seperti itu mungkin lebih mudah dipahami. Kita bisa melihat penyebabnya, bahkan mungkin tahu apa yang harus disalahkan.

Namun, bagaimana jika retakan itu justru berasal dari dalam?

Bagiku, itu jauh lebih menyakitkan.

Sebab, bagaimana kita bisa menghindari sesuatu yang merusak jika sumbernya berada di dalam? Bagaimana kita bisa memperbaiki keretakan jika sesuatu yang seharusnya menjaga keutuhan justru menjadi bagian dari penyebabnya?

Kaca itu belum pecah. Ia masih berdiri di tempatnya, masih tampak baik-baik saja jika dilihat dari kejauhan.

Mungkin itulah alasan mengapa belum ada yang berusaha menggantinya.

Toh, belum pecah.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bukankah kita sering menggunakan alasan yang sama untuk membiarkan banyak hal dalam hidup?

Selama masih bisa bertahan, kita bertahan. Selama belum benar-benar hancur, kita menganggap semuanya masih baik-baik saja.

Padahal, ada perbedaan antara sesuatu yang masih utuh dan sesuatu yang hanya belum pecah.

Aku tidak tahu sampai kapan kaca itu akan bertahan. Aku juga tidak tahu apakah ia masih bisa diperbaiki, atau memang sudah waktunya diganti.

Yang kutahu, retakan itu ada.

Dan semakin lama aku memikirkannya, semakin besar pertanyaan yang muncul di kepalaku.

Apa kita memang harus menunggu sampai sesuatu benar-benar pecah sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu?

Haruskah menunggu sampai tidak ada lagi yang bisa dipertahankan?

Aku tidak punya jawaban malam ini.

Mungkin karena ada hal-hal yang memang lebih mudah dipikirkan daripada diputuskan. Ada yang lebih mudah disadari daripada diakui. Dan ada yang tetap kita biarkan di tempatnya, bukan karena kita tidak melihat keretakannya, melainkan karena kita belum tahu apa yang akan tersisa setelah semuanya berubah.

Atau mungkin, kita hanya belum siap menghadapi kenyataan.

Aku berhenti sampai di sini.

Sebab semakin panjang aku menulis, semakin terasa bahwa sejak awal aku tidak benar-benar sedang memikirkan kaca.

Tapi ini bukan tentang kaca.
Artikel Sebelumnya Baca postingan ini