Sejak pagi hingga sore, tenaga terkuras untuk memindahkan seluruh peralatan tambang ke lokasi baru. Mesin, sluice box, pipa, hingga berbagai perlengkapan kerja lainnya akhirnya berhasil dipindahkan dan disusun di titik pengambilan.
Sebuah langkah penting sudah selesai.
Namun pekerjaan hari ini jelas bukan hal ringan. Panas matahari, medan yang tidak mudah, serta proses bongkar muat peralatan membuat tubuh terasa sangat letih.
Setelah semuanya selesai, saya pulang ke rumah dengan tubuh yang rasanya ingin langsung rebah.
Setelah mandi, saya memilih duduk di teras rumah. Di sebuah kursi kayu sederhana yang sudah lama menemani banyak sore saya.
Di tangan ada lintingan tembakau.
Di samping, secangkir kopi tanpa gula.
Suasana senja terasa tenang.
Asap tembakau perlahan naik ke udara, sementara pikiran justru mulai berjalan ke arah yang lain.
Saya mulai memikirkan rencana pekerjaan untuk besok pagi.
Lokasi baru ini masih menyimpan banyak tanda tanya.
Apakah tanahnya masih menyimpan emas?
Apakah kerja keras kami akan terbayar?
Harapannya sederhana saja.
Semoga di lokasi baru ini masih ada serpihan-serpihan emas yang bisa kami temukan. Serpihan kecil yang cukup untuk membangkitkan kembali semangat kerja.
Terlebih lagi menjelang Lebaran yang semakin dekat.
Karena bagi kami para pekerja lapangan, setiap butir emas bukan sekadar hasil tambang.
Ia adalah harapan.
Ia adalah perjalanan pulang.
Dan malam ini, di teras rumah yang sederhana, saya hanya bisa berharap:
Semoga besok pagi tanah itu memberi jawaban.
“Kadang setelah hari yang paling melelahkan, harapan justru lahir di teras rumah—bersama secangkir kopi dan rencana untuk esok hari.”