Sabtu, 21 Februari 2026
-
#field
Subuh belum sepenuhnya terang saat mesin motor saya panaskan. Udara masih lembap, embun menempel di daun dan tanah beraroma basah. Jalur menuju tambang memang tidak pernah ramah—turunan curam, dipenuhi batu pecahan tajam yang mudah membuat ban kehilangan traksi.
Di salah satu penurunan paling curam, insiden pertama terjadi. Ban belakang mendadak slip. Motor oleng ke kiri, gas spontan saya lepas. Detik itu terasa lebih panjang dari biasanya. Syukur masih bisa saya tahan dengan kaki dan rem perlahan. Jantung berdegup lebih cepat, tapi perjalanan harus lanjut. Jalanan berbatu memang bukan tempat untuk lengah.
Aktivitas di lokasi berjalan seperti biasa. Debu, suara mesin, dan konsentrasi penuh menyatu dengan rutinitas. Namun rupanya ujian belum selesai hari itu.
Saat perjalanan pulang, di titik turunan yang sama, kejadian kedua menyapa. Tiba-tiba terdengar suara kasar dari bawah mesin—rantai motor lepas. Motor kehilangan tenaga, hampir saja saya terjatuh lagi di jalur berbatu itu. Refleks menahan keseimbangan dan menarik motor ke sisi yang lebih aman menjadi keputusan cepat yang menyelamatkan.
Saya berhenti sejenak. Menarik napas dalam. Mengecek kondisi rantai dan roda belakang dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Di tempat seperti ini, kesalahan kecil bisa berujung besar. Setelah rantai terpasang kembali dan memastikan ketegangannya cukup, perjalanan dilanjutkan dengan kecepatan lebih rendah dan fokus penuh.
Hari itu memberi pengingat keras:
Medan berat tidak bisa ditaklukkan dengan keberanian saja. Perlu persiapan, pengecekan rutin, dan kewaspadaan ekstra—terutama pada jalur turunan berbatu pecah yang licin dan tidak stabil.
Catatan penting untuk perjalanan berikutnya:
- Periksa ketegangan rantai sebelum berangkat.
- Gunakan ban dengan tapak yang lebih agresif untuk medan batu lepas.
- Kurangi kecepatan di turunan, manfaatkan engine brake.
- Jangan anggap remeh titik yang sama dua kali—biasanya di situlah kita diuji lagi.
Perjalanan ke tambang bukan hanya soal sampai tujuan. Tapi soal pulang dengan selamat.
Dan hari itu, saya diingatkan bahwa keselamatan bukan kebetulan—ia hasil dari kesiapan.