Minggu, 22 Februari 2026
-
#field
Hari ini kerja seperti biasa. Mesin meraung, air keruh menyembur, lumpur terangkat dari dasar rawa dekat perkebunan sawit. Targetnya emas. Fokusnya tanah. Tapi rezeki kadang datang dalam bentuk lain.
Di sela-sela semprotan air dan aliran lumpur, sesuatu bergerak. Kuning kecokelatan. Bertotol halus. Seekor limbek liar—kemungkinan jenis seperti Clarias batrachus atau bahkan lele rawa seperti Clarias nieuhofii—muncul dari lumpur yang kami buka.
Ukurannya sekitar sepergelangan tangan anak kecil. Tidak besar, tapi cukup membuat senyum muncul di tengah kerja berat. Saya tangkap, pelan tapi pasti. Sayangnya, tadi saya juga melihat yang lebih besar. Jauh lebih besar. Dia lolos. Dan jujur saja, yang itu yang bikin pikiran sedikit terganggu sampai sekarang.
Kadang memang begitu. Dalam tambang, bukan hanya emas yang bikin deg-degan. Ada momen kecil yang justru lebih membekas.
Limbek yang saya dapat tidak langsung dibawa pulang. Saya taruh di baskom, saya beri lumpur berair supaya tetap hidup. Saya ingin melihat apakah besok saya bisa mendapatkan yang lain. Kalau alam masih berbaik hati, mungkin yang besar itu akan muncul lagi.
Menambang itu bukan hanya soal hasil gram demi gram. Ini tentang membaca tanda-tanda alam. Tentang kesabaran. Tentang menerima yang didapat hari ini sambil tetap berharap lebih esok hari.
Hari ini bukan hanya tentang emas.
Hari ini tentang seekor limbek kecil yang mengingatkan saya—di tengah lumpur, selalu ada kehidupan.
Besok, saya kembali.
Siapa tahu, yang besar itu sudah menunggu.