Rabu, 25 Februari 2026
-
#field
25 Februari 2026
Pukul 17.46 WIB
Sore tadi, saat langkah kaki masih berat sepulang kerja, semesta seperti sengaja menguji rasa dalam satu tarikan napas.
Datang dua kabar sekaligus.
Yang pertama, kabar gembira. Adik iparku melahirkan. Seorang bayi laki-laki telah hadir di keluarga kami. Tangis kecilnya mungkin baru beberapa jam terdengar, tapi rasanya sudah membawa harapan baru yang besar. Satu lagi anggota keluarga lahir ke dunia. Satu lagi alasan untuk bersyukur. Hidup selalu punya cara untuk menambah cerita, bahkan di tengah kesibukan dan lelahnya hari.
Namun, kabar kedua datang seperti angin yang membuat dada sedikit sesak.
Besok aku tidak bisa bekerja seperti biasa, deru mesin penambang emas dan teman-teman seperjuangan harus ku tinggalkan. Aku harus pulang kampung. Di rumah, hanya tinggal dua bidadariku: putriku yang baru enam tahun, dan istriku. Mertua harus berangkat ke Kota Padang, ke tempat adik ipar yang baru melahirkan itu. Artinya, rumah harus segera kuisi kembali dengan kehadiranku. Bukan hanya sebagai suami, tapi sebagai ayah yang memastikan semuanya baik-baik saja.
Di satu sisi, hati hangat menyambut kelahiran. Di sisi lain, ada tanggung jawab yang harus segera kuambil. Begitulah hidup orang dewasa—bahagia dan cemas sering datang beriringan, tanpa jeda.
Aku belajar satu hal sore ini: kabar baik dan kabar kurang menyenangkan bisa duduk berdampingan dalam waktu yang sama. Dan tugas kita bukan memilih salah satunya, tapi menjalaninya dengan tenang.
Besok mungkin bukan hari kerja seperti biasa. Tapi besok tetap hari penting. Hari untuk keluarga. Hari untuk memastikan dua bidadariku merasa aman.
Dan malam ini, aku menutup hari dengan satu kalimat sederhana:
Hidup bergerak, dan aku harus ikut bergerak bersamanya.
_KIDIGO