Logbook #09092026
Malam ini aku menemukan kembali sebuah postingan lama di Instagram ku.
Sebuah gambar sederhana.
Cahaya api.
Bayangan rumput yang bergerak.
Dan beberapa kalimat yang ternyata masih mampu menghentikan langkahku setelah bertahun-tahun.
“Jangan ceramahi aku tentang pahitnya hidup. Aku pernah berada di titik di mana bertahan hidup hanya karena tahu bunuh diri itu dosa.”
Aku membaca kalimat itu sekali.
Lalu sekali lagi... Hingga beberapa kali lagi.
Aneh.
Aku yang menulisnya dulu, tetapi malam ini rasanya seperti sedang membaca tulisan seseorang yang tidak lagi sepenuhnya kukenal.
Dulu
Aku tidak sedang mencari perhatian.
Aku juga tidak sedang mencoba terlihat kuat.
Aku hanya sedang berada di suatu tempat yang begitu gelap, sampai-sampai alasan untuk terus berjalan terasa hampir habis.
Tidak ada kalimat motivasi yang terdengar masuk akal.
Tidak ada nasihat yang terasa cukup.
Tidak ada kata “semua akan baik-baik saja” yang mampu menjangkau tempat di mana pikiranku berada saat itu.
Aku hanya tahu satu hal:
Aku tidak boleh mengakhiri hidupku.
Sesederhana itu.
Mungkin bagi orang lain alasan itu terlalu kecil.
Tapi ketika seseorang sedang berada di dasar, alasan kecil pun bisa menjadi pegangan terakhir.
Dan aku berpegangan padanya.
Yang tidak kuketahui saat itu
Aku tidak tahu bahwa beberapa tahun kemudian aku akan membaca kembali tulisan tersebut.
Aku tidak tahu akan ada begitu banyak pagi yang masih harus kulewati.
Tidak tahu akan ada pekerjaan yang membuat tubuh lelah.
Tidak tahu akan ada kegagalan.
Tidak tahu akan ada kehilangan.
Tidak tahu akan ada hal-hal yang membuatku tertawa lagi.
Tidak tahu bahwa hidup akan mempertemukanku dengan begitu banyak manusia, pengalaman, pekerjaan, dan persoalan yang dulu bahkan tidak pernah kubayangkan.
Aku juga tidak tahu bahwa suatu hari aku akan melihat kembali diriku sendiri dan berkata:
“Ternyata kau berhasil melewati malam itu.”
Hari ini
Aku tidak ingin menghakimi diriku yang dulu.
Aku tidak ingin berkata:
“Seharusnya kamu lebih kuat.”
Tidak.
Dia sudah melakukan apa yang dia mampu lakukan pada waktu itu.
Dia bertahan.
Dan mungkin itu sudah cukup.
Karena kalau dia menyerah waktu itu, aku tidak akan berada di sini malam ini.
Tidak akan ada cerita setelah halaman tersebut.
Tidak akan ada perjalanan berikutnya.
Tidak akan ada keluarga yang sekarang menjadi bagian dari hidupku.
Tidak akan ada pekerjaan.
Tidak akan ada mimpi-mimpi baru.
Tidak akan ada proyek-proyek yang pernah kubangun dari nol.
Tidak akan ada KMD-3.
Tidak akan ada tulisan ini.
Tidak akan ada aku yang sekarang.
Lucunya hidup...
Dulu aku bertahan karena takut mati.
Sekarang aku ingin hidup karena ternyata masih terlalu banyak hal yang ingin kulihat.
Masih banyak yang ingin kubangun.
Masih banyak yang ingin kupelajari.
Masih banyak kesalahan yang ingin kuperbaiki.
Masih banyak mimpi yang belum selesai.
Dan ternyata...
hidup tidak berhenti pada titik terburuk yang pernah kita alami.
Kita sering mengira sebuah malam adalah akhir dari cerita.
Padahal kadang...
itu hanya akhir dari satu bab.
Aku tidak tahu apakah diriku yang dulu akan percaya jika diberitahu bahwa suatu hari aku akan sampai di sini.
Mungkin tidak.
Mungkin dia akan tertawa.
Mungkin dia akan berkata,
“Sudahlah. Aku sudah terlalu lelah.”
Maka malam ini aku tidak akan memberikan ceramah kepadanya.
Aku hanya ingin duduk di sampingnya.
Diam.
Lalu berkata:
“Tidak apa-apa kalau hari ini kamu belum bisa melihat masa depan.”
“Kamu tidak harus menyelesaikan seluruh hidupmu malam ini.”
“Lewati saja malam ini.”
“Besok kita pikirkan lagi.”
Dan ternyata...
besok memang datang.
Lalu datang lagi.
Dan lagi.
Sampai akhirnya aku berada di sini.
Untuk diriku yang dulu
Terima kasih karena tidak menyerah.
Bukan karena kamu saat itu kuat.
Tetapi justru karena meskipun kamu merasa tidak kuat, kamu tetap bertahan.
Aku tidak akan menghapus luka itu dari sejarahku.
Aku juga tidak akan berpura-pura bahwa semuanya mudah.
Biarlah tulisan lama itu tetap ada.
Sebagai bukti bahwa aku pernah berada di tempat yang sangat gelap...
dan tetap menemukan jalan keluar darinya.
Hari ini aku tidak lagi ingin berdamai dengan takdir hanya karena terpaksa.
Aku ingin berdamai dengannya karena aku sudah memahami satu hal:
kita memang tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi kepada kita.
Tetapi kita masih bisa memilih apakah cerita itu berhenti di sana.
Dan ceritaku...
belum selesai.
— Kidigo